Makara ; mahluk penjaga gerbang . Biasanya ditemukan dalam pahatan pintu-pintu candi. Dan percayakah Anda bahwa setiap manusia memiliki 'penjaga gerbang'nya sendiri? Jika Anda bertanya soal kalimat itu, Anda harus curiga kemana nurani Anda pergi! Sebab, itulah, sang nurani, penjaga gerbang Anda ; batas antara dua sisi berbeda yang ada dalam setiap manusia - jiwa dan raganya. Itu pula sebabnya, kata 'Bacalah' - kata pertama dalam ayat pertama, surat pertama pada kitab suci saya tidak selalu berarti begitu. Jadi mulailah mencari arti yang sebenarnya. Walau terdengar absurd...

Rabu, 07 Maret 2012

DI GUNUNG, NAK... TIDAK ADA TOKO MAKANAN KALAU KALIAN LAPAR!


Hari baru saja berganti, 4 Mei 1976, 12.30 dini hari. Suara gemuruh datang di kejauhan. Perempuan itu tidak bisa mengelak. Longsoran salju terlalu cepat dan mendadak. Ia terkubur hidup-hidup. Meski mencoba bertahan, shock membuatnya tak sadarkan diri. Hanya 6 menit, sebelum seorang sherpa menariknya keluar dari timbunan salju yang membekukan. Terguncang hebat, perempuan itu hanya bisa terdiam, menatap langit biru mengatur napas di udara 6.300 meter dari permukaan laut yang tipis. Hal terakhir yang ia ingat sebelum tak sadarkan diri adalah putri kecilnya yang berumur 3 tahun, Noriko, jauh di seberang lautan. “Gunung mengajarkan saya, “ ucapnya kemudian, “Bahwa hidup tidak boleh disia-siakan!”

Dua belas hari kemudian, dunia mencatat namanya ; Junko Tabei, wanita pertama yang berhasil mendaki Mount Everest, gunung tertinggi di dunia. Tanggalnya, 16 Mei 1975. Umurnya saat itu, 35 tahun.  Seperti semua puncak gunung di dunia – tak peduli berapapun tingginya – tidak ada apa-apa di puncak Everest. Tabei bahkan mengaku, ia tidak lantas dilanda kegembiraan. “Saya hanya senang, tidak harus mendaki lagi,” ucapnya polos. Di puncak itu, Tabei memandang ke bawah. Mengingat nama-nama 14 pendaki wanita Jepang yang berangkat bersamanya dan terkubur bersama saat avalanche datang. “Tidak ada seorangnpun yang tewas. Dan itu yang mendorong saya ke puncak!”


Dilahirkan dengan nama belakang Ishibashi, 22 September 1939, Junko bukan anak perempuan yang sangat sehat. Ada masalah kesehatan pada paru-parunya. Ia lemah dan sakit-sakitan. Pada umur 10 tahun, Junko yang bosan diejek, tiba-tiba saja menemukan dunia baru yang mencengangkan saat darmawisata sekolah. Sebuah gunung menyandera pandangannya. Gunung itu, Asahi kemudia didakinya bersama seorang guru dan beberapa temannya. Setelah itu, ia bersikeras mendaki Chausu. “Saat itu, mendaki gunung bukan sebuah pilihan bijak,” paparnya. “Kami baru saja bangkit dari kehancuran dan kami harus lebih khawatir soal apa yang bisa kami makan .”

Tapi Junko tidak menyerah. Ia menyesuaikan diri.

Di bangku kuliah, Junko diam-diam bergabung dengan klub pendaki gunung. Mahasiswa lain mencemoohnya ; menyangka ia bergabung karena ingin mencari jodoh. Junko tidak peduli. Ketika ia berhasil mendaki Fujiyama, seluruh isi kampus tersenyum padanya dengan hormat. Umur 27 tahun ia menikah dengan   Masanobu Tabei, seorang pendaki gunung yang cukup popular di Jepang. Pernikahannya ditentang sang ibu hanya karena Masanobu tidak pernah kuliah. 

Junko kembali menyesuaikan diri. Ia menunjukkan cintanya dengan menjadi istri yang baik seperti adat Jepang. Sang ibu akhirnya menyerah, meski tahu Junko belum menghapus kecintaannya pada gunung dan petualangan.

Bertahun setelah mendaki Everest, Junko Tabei mendatangi Indonesia pada tahun 1992. Wanita mungil ini amat ramah dan rendah hati. Tak berhenti berterima kasih karena sudah diterima dan diizinkan mendaki Cartenz Pyramide. Setelah pendakian itu, ia menjadi Seven Summiter pertama di dunia – wanita pertama yang mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua. Menjadi orang ke 36 mendaki Everest dan Seven Summiter wanita pertama membuat Junko amat popular dan dihormati. Lagi-lagi, Junko melakukan penyesuaian meski sebenarnya ia tidak pernah menyukai popularitas dan tanggungjawab yang mengikuti popularitas itu. Setelah ekspedisi Everest, Junko menolak sponsorship. “Sponsorship membuat saya merasa mendaki tidak untuk diri saya sendiri. Membuat saya merasa bekerja untuk perusahaan pemberi dana,” ujarnya.

Kini Tabei aktif mengajarkan pentingnya kelestarian alam dan tetap bersemangat mendaki. Mendorong kaum wanita muda Jepang untuk menggapai impian dan cita-cita mereka. Tapi, betapapun hebat pencapaiannya, di rumah, Junko adalah istri dan ibu. Manasobu, sang suami berujar kalau ia bisa saja menghapus semua impian Junko bertahun-tahun lalu. “Ia akan menurut. Percayalah, ia akan menurut dan menjadi ibu rumah tangga biasa,” ujarnya. “Tapi justru karena ia akan menurut yang membuat saya yakin ; ia harus menggapai impiannya!” Manasobu juga menolak anggapan kalau ia seorang suami yang sangat baik dan pengertian. “Bukan soal itu,” ujarnya. “Ini soal ketulusan pada takdir dan hakikat diri kita.” Ia mengatakan bahwa kehebatan Junko adalah kemampuannya dan kemauannya untuk menyesuaikan di diri di saat yang tepat.  “Setelah membuktikan bahwa ia istri dan ibu yang baik, menjadi kewajiban saya untuk mendorongnya menggapai impiannya! Itu naluriah!”

Sang putri, Noriko, berujar singkat soal ibunya, “Sebenarnya, ia bukan pendaki gunung. Ia seorang ibu!” Bagaimana tidak. Pertama kali mengajak Noriko dan adik laki-lakinya, Shinya, mendaki gunung, yang pertama kali diucapkan Junko adalah, “Di gunung, nak… tidak ada toko makanan kalau kalian lapar!”  Lalu? “Ia memasak saat waktu makan dan menyuruh kami menghabiskan makanan kami  tanpa sisa,” ujar Noriko sambil tertawa.  “Kami katakan ; baik ibu! Tidak ada toko makanan kalau bekal kita habis!”

Jumat, 27 Januari 2012

GPS? Fuck!


Sumpah! Saya pernah bermaksud membuang GPS saya sejak 1,56 juta tahun yang lalu!

Sebutlah saya alay lebay, karena mungkin benar. Tapi, beneran, saya sudah pernah anti Global Positioning System. Alasannya sepele ; GPS itu teknologi canggih. Sementara, otak saya tidak terlalu canggih. Namun alasan sebenarnya adalah karena makin canggih sebuah teknologi – entah kenapa, koreksi saya jika salah – teknologi itu makin ringkih (Jawa ; lemah – Red.). Atau – ini lebih berbahaya – membuat kita makin ringkih!

Ini pengalaman nyata.

Di sebuah gunung, dengan noraknya (padahal tidak ada orang selain saya dan climbing partner ) saya mengeluarkan GPS baru, memperhatikan layar LCD-nya, memencet-mencet tombol dan… saya langsung kebelet buang air besar! Climbing partner saya langsung mengerutkan kening. Kenapa, tanyanya. Makderabit, jawab saya sedikit panik. Kita melenceng 4 derajat!

Climbing partner saya langsung mesem. Norak lu, katanya santai. Tangannya meraih GPS baru milik saya itu. Matanya langsung meneliti layar LCD, membiarkan saya berdiri di sampingnya dengan harap-harap cemas. Tiga koma empat detik kemudian ia kembali menatap saya ; Ini bukan peta Papandayan dodol, ujarnya. Ini peta Jakarta! Melenceng 4 derajat dari mana? Dari Hongkong?

Oke, saya koreksi kalimat dua alinea di atas ; itu pengalaman nyata soal gobloknya saya. Nah, di bawah ini, pengalaman nyata soal teknologi yang makin canggih makin ringkih sekaligus membuat manusia penggunanya ikut ringkih.

Setelah paham kalau GPS butuh input data  lokasi, saya makin norak. Semua data lokasi yang pernah saya kunjungi, saya masukan. Siapa tahu saya membutuhkan suatu hari, pikir saya. Walhasil, GPS saya mungkin GPS paling gaul sekaligus paling apes, karena ke WC pun tak jarang alat canggih itu saya bawa. Pada beberapa perjalanan di alam bebas, GPS saya bekerja dengan baik. Tentu saja – sebagai bekas gaptekers – saya sangat sumringah (Jawa ; sedikit alay – Red.)

Sampai suatu saat, di sebuah sungai setelah 8 jam berarung jeram, malapetaka itu terjadi ; GPS saya tidak bekerja! Padahal, saya sudah membungkusnya dengan 3 lapis plastik agar tidak basah. Baterenya pun menyala sempurna. Saya bahkan membawa cadangannya. Tapi, di layar LCD yang terlihat hanya tulisan bodoh berbunyi ; Out of coverage area!

Lha, ujar saya dengan mimik bodoh (lagi) pada teman-teman seperahu, apa gunanya alat ini kalau ia tidak bisa mencakup semua titik di dunia? Apa kerjanya satelit-satelit di atas sana? Apa? Wedus gembel! Keterangan dari beberapa teman seperahu yang memang sudah lebih terbiasa menggunakan alat ini tidak memuaskan saya ; GPS mungkin saja gagal menerima sinyal karena banyak sebab dan sebagainya. Sebagai sebuah teknologi canggih, GPS bergantung pada teknologi lain yang tidak kalah canggihnya. Jika satu sistem gagal, sistem lain biasanya akan ikut gagal. Begitulah kelemahan sophisticated technology, ujar mereka panjang lebar. Sampai akhirnya – mungkin karena sebal mendengar omelan saya – sang kapten perahu menyodorkan peta sungai. Coba kang, ujarnya sembari menahan senyum, cek saja posisi kita di peta ini.

Dan terjadilah malapetaka kedua!

Saya terbengong-bengong menatap peta sungai yang tiba-tiba saja terasa asing! Padahal baru 3 tahun semenjak saya menggunakan GPS sialan itu! Tiga tahun! Apa sih yang bisa terjadi selama 3 tahun? Anak kecil saja belum tentu bisa cebok sendiri saat umur 3 tahun!

Tapi itulah kenyataannya! Tiba-tiba saja saya merasa tersesat sesesat-sesatnya. Tiba-tiba saja, saya kangen setengah mati pada kompas prisma yang sudah saya miliki lebih dari 20 tahun. Mendadak saya merasa berdosa ; saya sudah selingkuh! Sementara kompas butut itu selalu setia menemani saya kemanapun. Tidak pernah ngadat apalagi complain meskipun kerap ikut berbasah-basah dan berlumpur-lumpur. Oooh… ayam, eh… kompasku!

Manusia itu memang ajaib ya ; mahluk yang mudah terbius dan tergoda! Dan itu bukan hanya soal GPS vs. kompas  lho! Soal lain yang lebih seram pun begitu ; korupsi, WIL/PIL sampai nepotisme yang menyebalkan itu. Saya mengaku bukan manusia yang amat sangat setia pada sesuatu. Buat saya, kesetiaan itu relatif, karena pertanyaan soal kesetiaan itu sebenarnya bukan pada siapa. Tapi pada apa. Itu sebabnya, saya memilih setia pada Tuhan, bukan pada manusia. Saya memutuskan setia pada hukum-hukumnya. Walaupun tidak amat taat, saya selalu mencoba untuk menarik batasan. Sebab saya percaya, batasan itulah yang membedakan kemanusiaan sesorang. Nah, soal hukum Tuhan itu, salah satunya adalah perubahan. Percayalah, hidup itu intinya sebuah perubahan yang simultan. Anda menolaknya, kemungkinan Anda akan kalah. Sialnya, perubahan itulah yang juga membuat saya memutuskan untuk menyelingkuhi kompas saya dan bermesraan dengan si GPS.  

Saya tidak ingin berbicara soal benar salah. Sebab pada akhirnya, kesalahan terbesar bukan pada alat atau teknologi. Tapi pada manusianya. Kesalahan terbesar saya adalah tidak merencakan perubahan itu dengan bijaksana dan melakukannya dengan membabi buta. Dan seperti semua hal yang dilakukan dengan membabibuta - atau membadakpicek, menggajahjuling dan seterusnya - saya justru bertambah ringkih. Bukan bertambah kuat!

Padahal, bahkan Tuhan memberi kesempatan manusia untuk berubah selama hidupnya! Agar menjadi mahluk yang lebih baik. Caranya sebenarnya sederhana ; berlaku jujur. Saya tidak memberi kesempatan pada diri sendiri untuk melakukan perubahan itu sesuai kebutuhan. Saya dibutakan oleh keinginan untuk menjadi sama dengan para pegiat alam bebas lain yang makin hari makin canggih. Padahal, sejak 3,8 juta tahun lalu, saya sudah percaya bahwa berbeda itu indah luar biasa.

Beberapa bulan setelah peristiwa itu, saya dan climbing partner saya kembali mendaki gunung. Kali ini, saya memasukan GPS dan kompas prisma saya ke dalam kantung yang sama. When sophisticated technology failed, the old knowledge will take control, ujar saya dalam hati sembari cengar-cengir. Selama pendakian tidak terjadi sesuatu. Kami mencapai puncak dan bersiap mengabadikan sunrise yang luar biasa indahnya. Ayo cepat, teriak climbing partner saya tak sabar. Ia memang bersedia menemani saya setelah saya iming-imingi berfoto dengan latar belakang sunrise. Lumayan buat profile picture Facebook, rayu saya sebelumnya. Agar lebih sulit ditolak saya lancarkan rayuan maut : kalau perlu, nanti gue cetakin 20R buat elu pajang di kamar. Anehnya, rayuan itu masih saja ampuh.

Setelah atur sana atur sini, saya mengarahkan Nikon FM2 saya. Wajah saya berubah pucat. Saya sengaja membawa kamera analog itu karena sudah cukup lama tidak menggunakannya. Padahal - seperti kompas saya - kamera itu banyak jasanya. Termasuk merekam beberapa kejadian penting seperti Kerusuhan Jakarta 1998, beberapa bencana alam nasional dan sebagainya. Melihat wajah saya pucat pasi, kening climbing partner saya berkerut. Dan kerutan itu tidak hilang selama 24 jam kemudian – selama perjalanan turun dan pulang - meskipun saya berusaha setengah mati meminta maaf ; saya lupa membawa film!

Maklum, sudah terbiasa memakai kamera digital! :p





Rabu, 18 Januari 2012

API DARI AIR DAN ES? BECANDA…


Kening keponakan saya langsung berkerut ketika saya mengucapkan kalimat ini ; “Api bisa lho dibuat dari air!” Ada kaca disamping tempat duduk Anda? Coba lihat, apakah kening Anda juga berkerut?

Sulap? Bukan! Sihir? Amit-amit! Ini murni pengetahuan berbasis logika!

Api itu proses oksidasi cepat terhadap suatu material dalam proses pembakaran kimiawi yang menghasilkan cahaya, panas dan berbagai hasil reaksi kimia lainnya. Api berupa energi berintensitas yang bervariasi dan memiliki bentuk cahaya  - dengan panjang gelombang di luar spektrum visual sehingga dapat tidak terlihat oleh mata manusia - dan panas yang juga dapat menimbulkan asap.

Penemuan cara menyalakan api, mungkin merupakan salah satu penemuan terbesar dalam sejarah manusia. Pengetahuan menyalakan api membuat api menjadi salah satu alat terpenting yang mendorong tumbuh dan berkembangnya peradaban manusia. Kalau tidak percaya, cobalah hidup seminggu tanpa api. Para arkeolog dan pasukan anti huru-hara pasti akan mengepung rumah Anda – mengira Anda Phitecantrophus Erectus yang masih tersisa!

Menyalakan api itu mudah jika Anda dibantu teknologi. Alat pembuat api bisa ditemui dimana-mana. Tidak usahlah saya sebutkan. Yang jelas, alat pembuat api modern bekerja dengan beberapa prinsip ; gesekan dua bahan kimia (korek api kayu dan gas) atau  gesekan dua kutub berbeda yang mengandung tenaga listrik (korek api elektrik). Jangankan Anda, anak balita seperti keponakan saya pun, bisa menggunakannya.

Nah, bagaimana jika alat pembuat api modern tidak tersedia? Mari kita membuat pertanyaan ini lebih dramatis ; bagaimana jika alat pembuat api modern tidak tersedia sementara Anda sedang berada di ketinggian ribuan meter di sebuah gunung terpencil, sendirian, kedinginan didera angin sementara di ransel Anda tersedia berbungkus-bungkus sop instant, kopi dan rokok? Kurang dramatis? Oke ; bagaimana jika alat pembuat api modern tidak tersedia saat Anda sedang berada di tengah-tengah Kutub Utara, berpacu dengan waktu membangun igloo sementara  seekor beruang kutub memperhatikan 100 meter dari tempat Anda sambil berpikir ; “Gue makan nggak ya nih orang?”

Survival adalah permainan mental!

Kalau bicara soal mental, bicaralah soal peralatan paling canggih dan mumpuni yang sebenarnya sudah Anda miliki sejak Anda belajar mengeja huruf dan angka ; kreatifitas! Dengan kreatifitas inilah, api bisa dibuat dari air dan es!

Bagaimana caranya? Baiklah! Berhentilah melongo dengan mulut terbuka dan perbaiki sikap duduk Anda. Malu dong sama komputer!

Salah satu metode menyalakan api adalah dengan memanfaatkan titik fokus cahaya. Caranya dengan menggunakan lensa kaca atau bahan lain ; Anda pasti pernah melakukannya dengan sebuah kaca pembesar atau suryakanta. Bisa juga dengan memantulkan cahaya menggunakan bahan yang memang memantulkan cahaya atau reflektor. Metode ini kita bahas di tulisan tersendiri. Nah, di sinilah kreatifnya. Suryakanta bisa dibuat dari bahan air atau es!

Jadi, api bisa dibuat dari air atau es dengan metode titik fokus cahaya!

Untuk membuat api dari air, yang Anda butuhkan hanyalah selembar plastik bersih dan air secukupnya. Masukkan air ke dalam plastik. Buat air dalam plastik itu mengelembung seperti bola. Itulah suryakanta Anda. Arahkan sinar matahari agar terfokus di satu titik. Jika Anda menggunakan es, Anda harus membentuk es itu menjadi lensa cembung.


                                       Suryakanta dari air 

Mudah? Sama sekali tidak!

Suryakanta dari air menuntut bentuk bulat yang sempurna. Jika tidak, cahaya akan terbias kemana-mana dan sulit bagi Anda untuk mendapat titik fokus cahaya. Plastik yang digunakan harus setipis mungkin tapi cukup kuat untuk menahan tekanan air. Selain itu, airnya harus benar-benar bersih. Partikel-partikel dalam air bisa saja mengganggu usaha Anda membuat titik fokus cahaya. Anda bisa menggunakan material tipis lebar berbentuk lingkaran untuk memudahkan Anda membulatkan plastik berisi air tadi. Kesulitan yang hampir sama juga terjadi jika Anda menggunakan es. Hampir tidak ada es yang benar-benar bersih. Jika tidak kotor, biasanya terdapat gelembung udara yang bisa membiaskan cahaya.

Jadi, sebenarnya bisa tidak? Bisa! Bukti ilmiah menunjukkan bahwa banyak kebakaran alamiah terjadi karena metode ini ; api muncul dari titik fokus cahaya yang diciptakan setitik embun atau dari pantulan es alami. Saya sendiri mencobanya. Dan berhasil. Meski membutuhkan waktu 2 minggu percobaan, puluhan lembar plastik dan berbaskom-baskom es yang saya buat di freezer kulkas ibu saya (yang sempat berpikir saya hendak ganti profesi menjadi pedagang es balok!)

Oke! Berhenti tersenyum-senyum! Keluar dan cobalah! Percayalah, di depan komputer senyum Anda tidak menumbuhkan api asmara siapapun! Anda harus memfokuskannya pada seseorang di luar sana! :p


Senin, 16 Januari 2012

MENYALAKAN API ITU BUTUH CINTA!


RAHASIA TEKNIK SURVIVAL PRAKTIS

Cobalah makan sekerat daging ular mentah! Hueeek… Percayalah, Rambo pun akan berpikir dua kali. Tidak lucu dong, kalau jagoan tempur muntah cuma karena makanan mentah!

Menurut bukti sejarah, api sudah digunakan untuk memasak makanan sejak 1.9 juta tahun lalu. Dan bukan untuk itu saja. Api juga digunakan untuk bertahan dari udara dingin, memproduksi senjata sampai alat untuk menyiksa.  Para pegiat alam bebas ; pendaki gunung, pemanjat tebing, pengarung jeram dan seterusnya, amat menghargai api. Percayalah, setelah berjam-jam didera lelah, secangkir kopi atau teh hangat manis, menjadi hiburan yang luar biasa mewah di udara dingin.

Di kondisi darurat, api menjadi lebih penting dari sekedar membuat kopi atau teh hangat. Api bisa digunakan untuk melindungi diri atau menjadi alat pemberi sinyal. Masalah muncul jika alat-alat membuat api modern (korek api kayu, korek api gas atau pemantik magnesium) tidak tersedia. Di sinilah penguasaan teknik-teknik survival dasar memegang peranan penting. Salah satunya, menyalakan api dengan teknik primitif.

Ada banyak cara dan metode. Tapi yang paling populer adalah teknik Bow and Drill atau Firebow ; busur api. Sebuah teknik menyalakan api dengan memanfaatkan panas yang ditimbulkan oleh gesekan kayu. Disebut busur api karena gerak gesekan itu dilakukan dengan menggunakan busur dan tali, milip seperti busur untuk memanah. Ada empat bagian utama. Pertama, bow - busur. Dua driil - bor. Ketiga, socket - penahan bor. Keempat fireboard - alas kayu.

Caranyapun sederhana.

Pertama, buat busurnya. Lalu drill atau bor. Kemudian buat socket – pengendali dan penahan bor, serta fireboard – alas kayu. Di alas kayu inilah dibuat lubang dan potongan berbentuk V. Fungsinya, tempat salah satu ujung bor ditempatkan. Ujung lainnya ditahan oleh penahan bor. Lalu, bor yang sudah dililit tali busur pun diputarkan dengan gerakan busur. Di bagian bawah lubang alas kayu diletakkan serbuk penangkap percikan api.

Setelah semua siap, busur digerakan perlahan. Lilitannya akan membuat bor berputar. Perlahan saja, temukan ritmenya. Setelah itu, mulai percepat dan tekan penahan bor lebih kuat. Lama kelamaan, gesekan ujung bor pada alas kayu akan menghasilkan panas dan percikan yang ditangkap serbuk di bawah lubang. Anda hanya perlu membuat serbuk itu terus menyala menjadi bara. Lalu menambahkan kayu-kayu kecil untuk menyalakannya menjadi api.


Mudah bukan? Ya! Sangat mudah. Tapi percayalah, 95% percobaan pertama pasti gagal!

Bagaimana bisa?

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan pemula. Pertama, ujung bor pada lubang alas kayu dibuat runcing – seolah dibuat untuk melubangi alas kayu. Padahal justru sebaliknya. Ujung bor pada lubang alas kayu harus relatif tumpul. Ini justru membuat gesekan yang lebih cepat menimbulkan panas. Kedua, tali pada busur seringkali kurang kuat atau justru terlalu kuat. Akibatnya, putaran bor tidak efisien. Sering juga, bor justru diam ditempat sementara talinya bergeser terus karena permukaan bor terlalu licin.

Tapi, kegagalan yang seringkali masih terjadi disebabkan karena ketidaktahuan soal rahasia kecil ini ; menyalakan api itu ternyata butuh cinta!

Serius!

Dari beberapa percobaan, para survivor paham bahwa untuk menghasilkan panas dari gesekan kayu dibutuhkan dua jenis kayu berbeda. Tidak sekedar berbeda, tapi harus benar-benar cocok. Mirip pasangan yang jatuh cinta! Salah satu kayu harus lebih keras dari yang lain. Tapi, keduanya harus relatif sama kerasnya. Artinya tidak mudah patah. Kedua kayu juga harus sama-sama kering. Bagi survivor berpengalaman, menggesekan dua kayu yang basah, bukan cuma membuang tenaga percuma, tapi juga ‘ngeres’!

Sebenarnya saya ingin menulis daftar kayu yang cocok dipasangkan untuk membuat gesekan yang efektif membuat panas. Tapi ah, keenakan Anda dong! Survivor harus berani mencoba dan gagal. Sekaligus, saya juga ingin tahu seberapa ‘ngeres’ otak Anda! J




SAMPAH DI GUNUNG? SOAL KECIL!

Anda boleh protes, tapi itulah kenyataannya ; sampah itu soal kecil!

Mungkin sudah ratusan kali, pendaki gunung seperti Anda melihat langsung atau melihat foto-foto sampah yang bertebaran di sepanjang jalan setapak gunung. Anda mungkin miris, sedih, kesal atau malah marah. Pikiran Anda lantas membentuk pola pikir yang mengarah pada sikap, perilaku dan latarbelakang negatif pelaku-pelakunya. Setelah itu, Anda akan menyusun pertanyaan soal bagaimana mengatasi masalah-masalah itu.

Ada api, ada asap. Ada manusia, ada sampah!

Jadi, kalau hanya berpikir soal bagaimana agar tidak ada sampah di gunung, ya mudah ; jangan izinkan satu orang pun manusia mendakinya! Beres kan? Dan, eits, jangan buru-buru mengatai saya bloon. Sebab, tanpa Anda katai pun, saya sudah tahu saya bloon. Tapi akuilah dulu ; kita seringkali berpikir kurang jernih terhadap suatu masalah. Kita kerap berpikir soal masalah pada ujungnya. Bukan pangkalnya. Padahal, memetakan pangkal masalah adalah cara paling mudah menyelesaikan masalah. Termasuk masalah sampah di gunung.

Ini contohnya.

Beberapa tahun lalu, saya mendaki sebuah gunung di luar negeri, di sebuah negara maju (tidak usah saya sebutkan gunung atau negaranya ya... tidak penting!). Sebagai jurnalis, saya penasaran bagaimana gunung yang masuk wilayah Taman Nasional itu bisa sangat bersih dan terpelihara. Jadilah saya bertanya ini itu pada Kepala Taman Nasional-nya.

Apakah gunung dan Taman Nasional ini buka sepanjang tahun? Kapan biasanya dilakukan recovery? Si Kepala Taman Nasional memandang heran. Recovery, ujarnya balas bertanya. Nggak ada tuuuh… Apakah para pendaki gunung di sini getol melakukan kegiatan bersih gunung, tanya saya lagi. Si kepala Taman Nasional memandang makin heran. Bersih gunung? Apaan tuuuh… Saya penasaran. Apakah para pendaki gunung di sini semua pencinta alam yang kesadarannya soal kelestarian alam sangat tinggi, cecar saya. Si kepala Nasional lagi-lagi memandang heran. Pencinta alam? Apaan siiih…

Jadi, bagaimana gunung dan Taman Nasional ini bisa begitu bersih, terpelihara dan indah?

Sederhana, jawabnya. Ini soal reward dan punishment ; soal penghargaan dan hukuman!

Para Rangers, Jagawana atau apalah sebutannya, sadar betul bahwa mengurus sebuah gunung dan Taman Nasional itu pekerjaan yang luar biasa berat. Jangankan dibuka untuk umum. Tidak dibuka untuk umum pun, mengurus gunung dan Taman Nasional membutuhkan tenaga, keahlian, strategi dan biaya yang tidak sedikit. Jadi bayangkan jika gunung dan Taman Nasional itu terbuka dan bisa dimasuki oleh masyarakat umum. Soal manusia, sebenarnya soal mudah. Manusia itu mahluk yang mencari dan butuh pilihan. Ambil contoh ; berberat-berat membawa tenda atau kedinginan di puncak gunung? Pendaki yang pintar pasti memilih membawa tenda. Pendaki yang bodoh, memilih kedinginan. Di titik ini, ujar si Kepala Taman Nasional, kami katakan pada pendaki yang memilih kedinginan itu ; “Get your butt out of here! We don’t need another morron!”

Beres kan?

Tentu saja, teknisnya tidak seperti itu. Memangnya Opera Van Java!

Protokol dan prosedur disusun secara apik untuk mendeteksi masalah perlengkapan bahkan masalah kesiapan mental dan fisik pendaki-pendaki itu. Bukan hal aneh di kantor Taman Nasional di negara maju, terdapat mesin pendeteksi kandungan alkohol dalam tubuh! Bukan hal aneh juga kalau di kantor-kantor itu, tersedia selembaran gratis berisi informasi peralatan, peta lengkap sampai teknik survival praktis! Bahkan, di beberapa kesempatan, petugas Taman Nasional berhak mengadakan tes keterampilan. Biasanya tertulis. Di lembar tes itu disusun pertanyaan sederhana seperti bagaimana mendirikan tenda yang benar. Jika ada pendaki yang tidak bisa menjawab pertanyaan ini, para Rangers pasti menyalakan lampu tanda bahaya! Mereka langsung memberi latihan singkat dan bertanya apa lagi yang pendaki itu tidak ketahui soal kegiatan yang akan mereka jalani. Tak hanya itu, para Rangers juga mengawasi pendaki gunung ini dengan ketat, memonitornya dengan teratur. Jika sesuatu terjadi, tindakan bisa dilakukan dengan cepat karena masalahnya sudah diketahui sejak awal. 

Begitu juga soal sampah.

Beberapa Taman Nasional sangat ketat menerapkan aturan soal ini. Kebanyakan sampah yang dibawa pendaki gunung atau pengunjung Taman Nasional biasanya sampah berupa pembungkus makanan. Selebihnya adalah sampah yang berhubungan dengan kebutuhan lain seperti kebersihan atau peralatan.

     Mendaki tanpa sampah di Cradle Mountain, Tasmania

Tidak seperti Taman Nasional di Indonesia yang memperbolehkan pengunjung untuk membawa hampir apapun ke area konservasi, petugas Taman Nasional di negara maju amat teliti. Makanan diteliti dan ditimbang. Bukan jumlahnya yang dipermasalahkan tapi pembungkusnya. Makanan siap saji yang memiliki kemasan berlapis-lapis jangan harap bisa masuk. Pilihannya adalah ditinggal atau bungkusnya dikurangi. Ambil contoh mie instant yang dibungkus plastik dengan bumbu-bumbu yang juga dikemas. Jika tetap ingin dibawa, maka mie atau bumbunya harus dikeluarkan dan kemasannya dibuang. Ada beberapa Taman Nasional yang menerapkan peraturan berat maksimal bahan plastik yang boleh dibawa ke kawasan.

Peralatan pun begitu. Ditimbang dan dicatat. Gas kaleng untuk memasak dicatat jumlahnya. Begitu juga kebutuhan kebersihan seperti tissue atau pembalut. Membawa satu pak pembalut untuk kunjungan 24 jam pasti membuat para Rangers mengerutkan kening! Begitu juga jika ada pengunjung yang nekat membawa bergulung-gulung tissue.

Para pengunjung juga diwajibkan membawa kembali sampah mereka di dalam plastic-bag yang disiapkan Taman Nasional. Jika merepotkan, mereka boleh meninggalkannya di pos-pos pengumpulan sampah yang sudah disiapkan. Tapi mereka wajib melaporkannya. Jika tidak, jangan harap bisa meninggalkan Taman Nasional. Para Rangers akan menggiring pengunjung ke ruang tahanan sementara kasus pelanggaran mereka diproses dan denda dijatuhkan. Memang tidak seperti ruang tahanan kriminal. Tapi tetap saja memberi efek jera dan malu. Apalagi, hukumannya tidak hanya sampai di situ. Nama mereka dicatat dan disebarkan ke Taman Nasional lain. Jadi Taman Nasional lain akan bersiap ketika si pengunjung nakal itu datang. Jika sudah berkali-kali, Rangers bahkan berhak menolak kedatangan si pengunjung atau memperkarakannya secara hukum.

Soal denda juga tidak main-main. Ada beberapa Taman Nasional yang menerapkan aturan sita. Artinya, jika si pengunjung tidak memiliki uang untuk membayar denda, barang-barang mereka langsung disita. Umumnya, Taman Nasional itu bekerja sama dengan badan resmi penggadaian. Semacam Perum Penggadaian di Indonesia. Si pengunjung diperbolehkan pulang dan diberi waktu untuk membayar denda dan menebus barang-barangnya. Jika melewati tenggat waktu, badan penggadaian akan melelangnya, menyerahkan jumlah uang hasil lelang sesuai dengan denda yang dijatuhkan dan sisanya digunakan untuk kebutuhan sosial atau konservasi. Jadi, jangan harap Anda bisa lolos dengan memasang raut wajah memelas sambil berkata, “Yaaa bapak, saya nggak punya uang nih!” - sementara di punggung Anda, tersampir ransel berharga ratusan ribu! Di sana, para Rangers akan membalas rengekan Anda dengan kalimat, “Please deh! Basi tau!

Lho, ujar saya sambil melongo, sadis amat sih? Apakah peraturan seperti itu tidak membuat para pengunjung atau pendaki gunung takut? Si Kepala Taman Nasional menggeleng yakin. Tidak ada peraturan yang cukup berat untuk diikuti oleh pendaki gunung yang benar-benar mencintai alam!

Dan memang, bukan hanya soal pelanggaran saja yang disorot. Soal penghargaan untuk pengunjung yang baik pun amat diperhatikan. Jika Anda melaporkan sebuah kerusakan atau melakukan sesuatu melebihi kewajiban, Anda juga diganjar hadiah. Biasanya cuma sebuah pin sederhana, setangan (slayer) atau sertifikat. Nama Anda pun dicatat dalam daftar pengunjung yang baik. Keuntungannya, Anda bisa mendapat prioritas sebagai pengunjung yang jumlahnya memang selalu dibatasi. Kelihatannya sepele, namun ternyata mampu membangkitkan kesadaran dan kebanggaan memiliki dan menjaga.

Tentu saja semua ini butuh biaya. Dan biaya itu datang dari retribusi pengunjung. Jadi jangan langsung mengangkat kapak perang kalau Taman Nasional mengumumkan biaya retribusi baru yang lebih mahal. Sebab percayalah, harga kelestarian dan kebersihan itu memang mahal. Jangan lupa, Taman Nasional yang memiliki gunung, misalnya, juga harus menyediakan dana untuk kondisi darurat jika ada pengunjung atau pendaki yang mengalami kecelakaan. Jadi, biaya keamanan juga tinggi. Yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa biaya-biaya itu digunakan untuk tujuan sebenarnya. Tentu saja ada banyak faktor yang membuat semua itu bisa terlaksana. Dari sisi para Jagawana, tentu saja kesejahteraan dan perlindungan yang baik ; gaji tinggi, beragam asuransi mereka dan keluarganya dan kepastian karier. Di sisi masyarakat jangan lupakan tingkat pendidikan dan latar belakang sosial budaya.      

Ketika saya ceritakan masalah-masalah – terutama sampah, yang sering dihadapi di Taman Nasional kita, si Kepala Taman Nasional yang saya wawancara itu mengangguk-angguk. “Masalah sampah itu mudah,” katanya serius. “Masalah yang lebih sulit adalah kemauan!”

Nah ini dia! Maukah kita? Tentu saja! Bisakah kita! Ya bisa dong! Lha semua elemennya sudah ada kok! Apa sih yang tidak ada di Indonesia? Koruptor yang jadi selebriti aja ada kok!

Senin, 24 Oktober 2011

MENCINTAI DAN MENGERTI

Ada perbedaan besar antara mencintai dan mengerti.

Dan, serius, ini penting karena keduanya saling berhubungan dalam sebuah proses yang bisa rumit bisa sederhana. Saya tidak bicara dalam konteks dua manusia ; pria dan wanita. Saya bicara dalam konteks dunia saya ; pendaki gunung dan alam.

Entah berapa belas kali saya mendapat ajakan untuk kegiatan-kegiatan pelestarian alam oleh komunitas-komunitas pencinta alam. Sebuah niat baik. Diejawantahkan dalam bentuk yang baik juga. Namun, sejak lama, saya merasa bahwa seringkali itu semua sia-sia. Tentu saja, sia-sia bukan dalam artian tak berguna sama sekali, tapi sia-sia karena kegiatan itu terlalu naif untuk dilakukan oleh manusia-manusia yang mengklaim sangat dekat dengan alam, mencintainya sampai mati dan seterusnya. Semuanya membuat saya berpikir nakal bahwa jangan-jangan, cinta para pendaki gunung pada alam hanya sebuah birahi yang menuntut pemuasan ; jalan setapak bersih, puncak tanpa sampah dan... selesai! Yang mereka butuhkan adalah alam yang terlihat cantik dan lestari. Agar mudah ereksi.

Ada perbedaan besar antara mencintai dan mengerti.

Gunung, sebagai bentukan alam memang sudah sejak lama menarik perhatian dan keingin-tahuan manusia. Itu yang membawa manusia ke setapak gunung, punggungannya, lalu ke puncaknya. Manusia mendaki gunung, ujar Zen Master Futomaki, bukan untuk mencari pencerahan. Manusia mendaki gunung karena sudah mendapat pencerahan. Dan pencerahan itu seringkali berupa kesadaran sederhana bahwa hidup ini seringkali terlaksanakan maknanya, papar Geoffrey Winthrop Young, dalam kegiatan yang sepertinya tanpa guna. Dan itu acapkali benar. Manusia pendaki gunung selalu mengklaim bahwa mereka menemukan kemanusiaannya kembali di tengah alam liar. Sebuah guna yang bersifat pribadi. Padahal bagi manusia lain, kegunaan itu harus kasat mata. Apa sih guna mendaki gunung? Apa dunia berhenti berputar jika tidak ada pendaki gunung. Kiamat? Hhah... siapa elu!

Kesadaran akan eksistensi memaksa para pendaki gunung - sadar atau tidak - untuk membawa dunianya ke ranah-ranah publik. Agar bisa dikenali. Dimengerti dan pada akhirnya, diakui dan dihormati. Ini sah-sah saja. Memaksa semua manusia untuk mencicipi nikmatnya mendaki gunung, memang tidak mungkin. Namun membuat mereka melihat bahwa kegiatan ini memiliki guna, mungkin bisa memberi peluang agar kegiatan ini tidak lagi dianggap sebagai sebuah kegiatan mubazir. Anda pasti sudah belasan kali mendengar kalimat ini ; ngapain juga mendaki ke puncak, kalau nanti mesti turun lagi? Jangan anggap remeh pertanyaan ini. Ia, pertanyaan ini, sudah ada sejak awal manusia bersikukuh mendaki puncak-puncak dunia.

Maka beragam kegiatan dilakukan untuk menarik perhatian. Ada yang ekstrim. Ada yang justru hura-hura. Bukan berita lagi jika suatu kali Anda menyaksikan ratusan pendaki berangkat bersama-sama untuk melakukan operasi bersih. Jargonnya, entah kenapa, sama saja ; kelestarian alam. Seolah-oleah kelestarian alam hanya sebatas bungkus Supermi, havermouth, kaleng sardin atau bungkus rokok. Dan yang membuat saya makin - maaf, mual, adalah kenyataan bahwa para pendaki ini seringkali akhirnya terjebak dalam kesadaran seperti itu ; kami pendaki gunung, kami mendaki, membawa sampah, lalu kami mendaki lagi dan membersihkannya. Nah, sekarang Anda lihat kan, kami ini mencintai alam!

Astaga!

Okelah! Maafkan kepicikan saya, jika itu yang ada dalam pikiran Anda. Sebab, saya tidak mengatakan semua kegiatan itu omong kosong. Ada manfaat yang ditangguk. Salah satunya adalah memupuk tanggungjawab dan kepekaan sosial. Saya hanya mendendam pada keadaan bahwa kita seringkali menganggap apa yang sudah kita lakukan cukup dan berpuas diri di situ. Saya hanya mengutuk pada kesadaran bahwa kita ini penuntut kebebasan paling berisik di dunia, namun dengan rajin dan metodis membatasi semua tanggungjawab yang lantas lahir dari tiap kata kebebasan yang kita koarkan!

Dulu, ada seorang senior pendaki - termasuk satu dalam daftar pendek pendaki yang paling saya hormati - yang entah mengapa selalu menolak ikut serta dalam kegiatan-kegiatan seperti ini. Ia selalu mencibir sinis. Dan itu membuat saya heran. Jadi saya putuskan untuk mencari jawaban. Awalnya, semua alasannya sungguh tidak masuk akal. Namun ada sebuah kalimat yang diucapkannya dan hingga kini terpendam dalam nurani saya ; "Ada perbedaan antara mencintai alam dengan cara-cara bodoh dan mengerti bahwa alam membutuhkan kesmpatan untuk memiliki kebebasannya sendiri, agar ia bisa terus hidup. Bisa terus ada!"

Mengerti maksudnya?

Saya baru paham ketika seorang pejuang suku Ayamaru di Kepala Burung, dengan santai melepas seekor cendrawasih yang entah mengapa masuk ke honainya. "Ia bagian dari alam. Dan alam tidak pernah cocok menjadi bagian dari hidup manusia," ujarnya. Saya langsung mengerutkan kening. "Bukankah manusia juga bagian dari alam?" tanya saya. "Ia tertawa. "Sejak kapan?" balasnya dengan nada mengejek. "Sejak mesin-mesin gergaji itu kalian bawa ke pinggiran hutan? Atau sejak rumah-rumah batu kalian dirikan di lembah dan bukit-bukit?"

Bahkan seorang Ayamaru bisa paham dengan jernih korelasi hakiki antara alam dan manusia yang justru baru ditemukan manusia modern belum lama ini. Korelasinya sederhana ; manusia dan alam itu seperti sisi mata uang. Namun karena manusia diberkahi sebuah program maha dahsyat dari Sang Maha Programer, program bernama Akal (Inside), maka manusia memikul kewajiban untuk menjaga agar mata uang itu tidak jatuh ke salah satu sisi. Caranya mudah ; putarkan saja mata uang itu. Keseimbangan terjadi dan hidup pun akan berjalan dengan indah. Namun ketika satu sisi itu mencoba untuk lebih luas, lebih besar, lebih berat dan seterusnya, dari sisi lainnya... keseimbangan hilang. Anda tentu tahu apa yang terjadi seterusnya.

Dan - ini bagian paling menyebalkan - keseimbangan itu telah lama hilang! Sisi manusia di mata uang itu telah jauh lebih besar, lebih luas, lebih berat dari sisi alam. Mata uang itu kini berhenti berputar dan sisi alam berada di bagian tak terlihat. Tertutup, tertekan sisi lainnya - terengah-engah mencari udara untuk tetap hidup.

Bagaimana bisa? Jawabannya juga sederhana ; manusia itu berkembang biak! Dan itulah masalah terbesarnya ; manusia berkembangbiak sementara alam tidak! Jadi, wajar saja jika tidak butuh waktu lama bagi manusia untuk mulai melakukan keahliannya yang paling utama ; merusak. Mungkin awalnya tidak bermaksud begitu. Sebab bagaimanapun, manusia punya cacatan sejarah maha panjang tentang bagaimana mereka hidup berdampingan dengan alam dalam harmonisasi dan keseimbangan yang menentramkan. Namun desakan kebutuhan akhirnya memaksa manusia untuk sedikit demi sedikit melanggar batas keseimbangan itu. Jadi jangan heran jika aktivis pelestaraian alam paling radikal pun bisa kehilangan kata-kata ketika berhadapan langsung dengan manusia yang memang merusak alam untuk sekedar bertahan hidup ; peladang tanpa lahan atau petani garapan. Mereka ini merusak dengan sadar ; saya lapar dan saya butuh sesuatu untuk saya makan! Anda punya makanan? Maukah Anda membaginya dengan saya, istri saya, anak-anak saya?

Tentu saja selalu ada manusia yang melihat kondisi ini dengan kacamata berbeda ; keuntungan pribadi. Dan yang seperti ini memang layak diperangi! Sampai jadi arang kalau perlu! Namun, itu tetap tidak akan menyelesaikan masalah utama ; populasi manusia yang terus membesar. Dengan cepat. Hampir tak tertahankan. Masalah-masalah seperti itu akan selalu ada. Seperti panu yang muncul lalu menyebar ke seluruh tubuh. Masalahnya bukan kulit atau obat! Masalahnya adalah Anda mungkin menggunakan air yang salah untuk mandi, mencuci makanan atau pakaian. Masalahnya adalah Anda tidak bersih!

Jadi masalah kelestarian alam bukanlah masalah sampah atau berapa banyak pohon yang ditebang tiap hari. Percayalah, sampah bisa dihancurkan dan pohon masih bisa tumbuh. Masalah kelestarian alam adalah masalah keengganan kita untuk mengakui kenyataan menyakitkan bahwa eksistensi manusialah penyebab hancurnya alam. Keberadaan dan perkembangan jumlah manusialah masalah intinya. Makin banyak manusia, makin hancurlah alam!

Saya tidak mengatakan bahwa manusia tidak berhak ada atau hidup. Itu sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan salah mengambilkan keputusan ketika Ia menurunkan manusia ke dunia. Tapi, saya juga kerap bertanya-tanya ; Tuhan itu kan Maha Pencipta ya? Mengapa sih, Ia tidak menurunkan kita di planet yang bisa tumbuh membesar juga? Mengapa Ia tidak menurunkan kita di planet seperti kata James Lovelock dalam Hipotesis Gaia-nya ; bumi adalah organisme yang hidup - jadi bumi bisa membesar sesuai kebutuhan jumlah penghuninya? Toh, itu soal mudah untukNya!

Namun, tidakkah itu semua juga memberi kita kesadaran bahwa apapun dalam hidup ini ternyata ada batasnya! Mungkinkah itu juga berlaku bagi perkembangan jumlah manusia? Atau kita hanya akan membiarkan semuanya sampai akhirnya jumlah itu terlalu banyak untuk diterima lantas kematian mengerikan membinasakan kita dengan beragam cara ; genocide dan perang untuk memperebutkan sumberdaya yang tersisa? Kemudian apa yang tersisa? Sumberdaya yang juga tidak lagi bisa diperbaiki? Jadi apa untungnya menang? Saya kerap bertanya-tanya...

Sekali-sekali, coba Anda tanyakan pada para pendaki gunung, pencinta alam, sukarelawan penanaman pohon dan apalah namanya, mengapa mereka melakukan semua itu? Jawabannya - panjang atau pendek, pasti dihiasi kata mencintai alam, melindungi alam, melestarikan alam! Tidak ada seorangpun yang mengatakan ; saya menanam dan memunguti sampah karena saya ingin mengerti!

Mengerti maksud saya? Syukurlah! Kini - jika mau - Anda hanya harus belajar mencintai. Dengan benar. Sebab, menurut saya, ada perbedaan besar antara sekedar mencintai dan mengerti mengapa mesti mencintai. Dan itulah yang kelak akan saya katakan jika putri saya akan mencoba mendaki gunung ; Nak, pertama-tama, mendakilah karena kau ingin belajar mengerti dan mencintai Tuhan! Sebab Dialah Sang Maha Alam! Setelah itu... usahakan tidak punya anak terlalu banyak!
















Jumat, 21 Oktober 2011

SAWANOBORI ; AGAINTS ALL ODDS!

Masih ingat aturan pertama saat tersesat ketika turun gunung? Ya, jangan mengikuti aliran sungai. Sebab, ujar almarhum Norman Edwin dalam buku mahsyurnya Mendaki Gunung Sebuah Tantangan Petualangan ; Kalau terpaksa keluar dari lintasan yang ada, selalu jalan di atas punggung-punggung gunung. Hindari jalan di ceruk-ceruk atau mengikuti sungai-sungai di bawah punggung gunung. Sungai memang nampaknya menunjuk arah yang gampang dilalui untuk ke bawah, tetapi mengikutinya berbahaya sekali. Sungai-sungai di gunung seringkali berupa tebing-tebing curam dan membentuk air terjun, sehingga sukar dituruni tanpa alat-alat khusus. Banyak kecelakaan yang dibuat seorang pendaki pemula karena kesalahan mengikuti sungai di gunung.

Tentu saja, pendaki berpengalaman akan bersikap kritis soal ini. Dan seperti nya, almarhum juga paham dan tidak lantas menjadikan kalimatnya sebagai kredo mati. Sebab, misalnya, bagaimana kalimat itu disikapi di sebuah big-snow-mountain seperti gunung-gunung di pegunungan Himalaya? Atau, apakah kalimat itu juga berlaku bagi sekelompok pendaki gunung yang tersesat namun membawa perlengkapan sangat memadai? Jadi, Anda tentu saja boleh mengambil kesimpulan sendiri.

Yang jelas bukan soal turun gunung mengikuti sungai yang ingin saya bicarakan. Namun, kebalikannya ; mendaki gunung mengikuti aliran sungai!
Ini memang cabang mendaki gunung yang belum populer di Indonesia. Padahal di negara asalnya, Jepang, mendaki gunung lewat jalan setapak biasa dianggap turist activity. Para pendaki gunung Jepang mengenal cabang ini, SAWANOBORI. Sawa, artinya gunung. Selain di Jepang, Sawanobori juga popular di Taiwan dan Hongkong. Bagi penggila Sawanobori, Jepang dan Taiwan adalah Himalaya mereka.

Sekarang, kembangkan imajinasi Anda!

Sebuah sungai, di gunung tropis. Aliranya deras,dingin, lembab, genit meliuk-liuk melewati medan yang dihampari bebatuan beragam ukuran. Terkadang, ya… membentuk air terjun. Atau celah tebing batu. Dan Anda, harus berjalan melewati itu semua – sambil membawa ransel berisi semua peralatan mendaki yang biasa Anda bawa - hingga menemukan titik sumber air sungai itu.

Sounds crazy? Nope! Sounds like adventure!

Pikirkan ini : River trekking is a combination of trekking and climbing and sometimes swimming along the river. It involves particular techniques like rock climbing, climbing on wet surfaces, understanding the geographical features of river and valleys, knotting, dealing with sudden bad weather and finding out possible exits from the river. – Wikipedia.(Menjelajah sungai adalah kombinasi penjelajahan dan pendakian serta kadang-kadang berenang sepanjang sungai. Mencakup teknik-teknik panjat tebing, memanjat di bidang basah, pemahaman medan dan bentukan sungai serta lembah, tali-temali juga berhadapan dengan perubahan cuaca mendadak serta menemukan jalan keluar yang paling memungkinkan dari sungai)

Jadi, pertama-tama, Anda akan basah kuyup! Di kota yang telanjang dari sengatan matahari, debu-debu dan asap sisa pembakaran kendaraan bermotor, basah kuyup oleh air dingin bisa terasa menyenangkan. Di pegunungan atau dataran tinggi, basah kuyup bisa menjadi pembeda antara hipotermia dan sehat wal afiat. Jadi, Sawanobori adalah sebuah bentuk ekstrimitas dari konsep mendaki gunung pada umumnya. Sebuah konsep yang mengangkangi aturan-aturan baku mendaki gunung ; againts all odds!

Tentu saja, ekstrimitas tidak selalu buruk. Toh, para pelaku Sawanobori justru lebih ketat menerapkan standar keselamatan dan keamanan. Di Jepang, sebuah aturan biasa bagi klub-klub Sawanobori untuk mengeluarkan izin bagi setiap perjalanan yang dilakukan anggotanya. Bahkan jika perjalanan itu hanya memakan waktu satu hari tanpa menginap. Jika tidak, Anda akan melakukan Sawanobori sendirian sepanjang hidup Anda, karena klub Anda akan mengeluarkan informasi yang membuat Anda dikenal sebagai pegiat Sawanobori yang tidak patuh pada standar keamanan dan keselamatan. Anda juga akan dicekal – tidak diizinkan melakukan Sawanobori di manapun di Jepang Berlebihan? Silahkan perdebatkan sendiri. Yang pasti, Sawanobori memang menyodorkan tantangan yang tidak bisa dihadapi dengan kalimat sederhana macam kalimat yang sering diucapkan para pendaki gunung, “Naik gunung yuk! Berangkaaat…”

Selain air dan basah kuyup, Sawanobori menghadirkan bahaya lewat curamnya medan. Hamparan batu-batu, membuat Anda harus menggunakan semua anggota badan untuk melaluinya. Itu jika medannya masih bisa dilalui dengan kaki. Ketika sungai mendadak terhenti oleh tebing tinggi, Anda membutuhkan lebih dari sekedar berjalan dan merangkak serta anggota tubuh. Anda membutuhkan keterampilan memanjat tebing (yang pasti basah) dan peralatan yang baik. Jadi, ini memang bukan sebuah petualangan asal jalan. Ini sebuah kegitan yang membutuhkan perencanaan matang ; kesiapan mental fisik, riset medan, perencanaan rute, emergency scenario, perencanaan dokumentasi dan seterusnya. Tanpa itu, Anda hanya akan berbasah-basah tanpa tujuan - padahal mandi (di WC umum pun) punya tujuan sederhana membersihkan badan.

Sawanobori di Indonesia
Di Jepang dan Taiwan, Sawanobori menjadi kegiatan popular yang dipilih para pendaki gunung yang membutuhkan tantangan lebih besar, namun bisa dilakukan dengan waktu relatif lebih singkat dan biaya yang juga relatif lebih murah – dibandingkan harus trekking di Kanchenjunga, misalnya. Jepang dan Taiwan memang memiliki kontur pegunungan yang dihiasi banyak aliran sungai, besar, sedang dan kecil. Debit airnya relatif stabil namun bisa berubah dengan cepat.

Kontur pegunungan dan gunung-gunung di Indonesia sebenarnya tidak jauh berbeda. Malah ada beberapa kelebihan, misalnya udara dan cuara yang relatif lebih hangat. Di Jepang yang lebih dingin, salah satu peraturan standar bagi para pelaku Sawanobori adalah memakai pakaian anti-basah. Kelebihan lain, sungai-sungai di Indonesia banyak yang belum dijelajahi dengan teknik ini. Jadi, kemungkinan untuk menemukan keindahan dari keaslian sungai, masih sangat besar. Poin keindahan dan keaslian ini penting. Siapa tahu bisa dijual untuk petualangan wisata. Selain itu, Sawanobori juga memungkinkan para pegiat alam bebas belajar memetakan sungai di gunung-gunung. Ini bisa menjadi informasi yang penting dan berharga untuk tujuan konservasi, SAR dan itu tadi... jualan wisata.

Jadi, tantangan saya untuk Anda setelah mencicipi Sawanobori adalah bagaimana mempopulerkan kegiatan ini secara positif ke komunitas pegiat alam bebas. Agar mereka lebih mengenal sungai sebagai sebuah ekosistem yang unik. Agar mereka bisa lebih mencintai dan – lebih penting lagi – menghormatinya (sebelum sungai-sungai itu masuk kota dan dijejali sampah). Sebab, selama ini, selain untuk arung jeram, sungai-sungai kita lebih sering dijadikan tempat untuk merendam calon anggota baru klub-klub pegiat alam bebas. Itu pun sambil diomelin! (Photo:Peek)