Ada perbedaan besar antara mencintai dan mengerti.
Dan, serius, ini penting karena keduanya saling berhubungan dalam sebuah proses yang bisa rumit bisa sederhana. Saya tidak bicara dalam konteks dua manusia ; pria dan wanita. Saya bicara dalam konteks dunia saya ; pendaki gunung dan alam.
Entah berapa belas kali saya mendapat ajakan untuk kegiatan-kegiatan pelestarian alam oleh komunitas-komunitas pencinta alam. Sebuah niat baik. Diejawantahkan dalam bentuk yang baik juga. Namun, sejak lama, saya merasa bahwa seringkali itu semua sia-sia. Tentu saja, sia-sia bukan dalam artian tak berguna sama sekali, tapi sia-sia karena kegiatan itu terlalu naif untuk dilakukan oleh manusia-manusia yang mengklaim sangat dekat dengan alam, mencintainya sampai mati dan seterusnya. Semuanya membuat saya berpikir nakal bahwa jangan-jangan, cinta para pendaki gunung pada alam hanya sebuah birahi yang menuntut pemuasan ; jalan setapak bersih, puncak tanpa sampah dan... selesai! Yang mereka butuhkan adalah alam yang terlihat cantik dan lestari. Agar mudah ereksi.
Ada perbedaan besar antara mencintai dan mengerti.
Gunung, sebagai bentukan alam memang sudah sejak lama menarik perhatian dan keingin-tahuan manusia. Itu yang membawa manusia ke setapak gunung, punggungannya, lalu ke puncaknya. Manusia mendaki gunung, ujar Zen Master Futomaki, bukan untuk mencari pencerahan. Manusia mendaki gunung karena sudah mendapat pencerahan. Dan pencerahan itu seringkali berupa kesadaran sederhana bahwa hidup ini seringkali terlaksanakan maknanya, papar Geoffrey Winthrop Young, dalam kegiatan yang sepertinya tanpa guna. Dan itu acapkali benar. Manusia pendaki gunung selalu mengklaim bahwa mereka menemukan kemanusiaannya kembali di tengah alam liar. Sebuah guna yang bersifat pribadi. Padahal bagi manusia lain, kegunaan itu harus kasat mata. Apa sih guna mendaki gunung? Apa dunia berhenti berputar jika tidak ada pendaki gunung. Kiamat? Hhah... siapa elu!
Kesadaran akan eksistensi memaksa para pendaki gunung - sadar atau tidak - untuk membawa dunianya ke ranah-ranah publik. Agar bisa dikenali. Dimengerti dan pada akhirnya, diakui dan dihormati. Ini sah-sah saja. Memaksa semua manusia untuk mencicipi nikmatnya mendaki gunung, memang tidak mungkin. Namun membuat mereka melihat bahwa kegiatan ini memiliki guna, mungkin bisa memberi peluang agar kegiatan ini tidak lagi dianggap sebagai sebuah kegiatan mubazir. Anda pasti sudah belasan kali mendengar kalimat ini ; ngapain juga mendaki ke puncak, kalau nanti mesti turun lagi? Jangan anggap remeh pertanyaan ini. Ia, pertanyaan ini, sudah ada sejak awal manusia bersikukuh mendaki puncak-puncak dunia.
Maka beragam kegiatan dilakukan untuk menarik perhatian. Ada yang ekstrim. Ada yang justru hura-hura. Bukan berita lagi jika suatu kali Anda menyaksikan ratusan pendaki berangkat bersama-sama untuk melakukan operasi bersih. Jargonnya, entah kenapa, sama saja ; kelestarian alam. Seolah-oleah kelestarian alam hanya sebatas bungkus Supermi, havermouth, kaleng sardin atau bungkus rokok. Dan yang membuat saya makin - maaf, mual, adalah kenyataan bahwa para pendaki ini seringkali akhirnya terjebak dalam kesadaran seperti itu ; kami pendaki gunung, kami mendaki, membawa sampah, lalu kami mendaki lagi dan membersihkannya. Nah, sekarang Anda lihat kan, kami ini mencintai alam!
Astaga!
Okelah! Maafkan kepicikan saya, jika itu yang ada dalam pikiran Anda. Sebab, saya tidak mengatakan semua kegiatan itu omong kosong. Ada manfaat yang ditangguk. Salah satunya adalah memupuk tanggungjawab dan kepekaan sosial. Saya hanya mendendam pada keadaan bahwa kita seringkali menganggap apa yang sudah kita lakukan cukup dan berpuas diri di situ. Saya hanya mengutuk pada kesadaran bahwa kita ini penuntut kebebasan paling berisik di dunia, namun dengan rajin dan metodis membatasi semua tanggungjawab yang lantas lahir dari tiap kata kebebasan yang kita koarkan!
Dulu, ada seorang senior pendaki - termasuk satu dalam daftar pendek pendaki yang paling saya hormati - yang entah mengapa selalu menolak ikut serta dalam kegiatan-kegiatan seperti ini. Ia selalu mencibir sinis. Dan itu membuat saya heran. Jadi saya putuskan untuk mencari jawaban. Awalnya, semua alasannya sungguh tidak masuk akal. Namun ada sebuah kalimat yang diucapkannya dan hingga kini terpendam dalam nurani saya ; "Ada perbedaan antara mencintai alam dengan cara-cara bodoh dan mengerti bahwa alam membutuhkan kesmpatan untuk memiliki kebebasannya sendiri, agar ia bisa terus hidup. Bisa terus ada!"
Mengerti maksudnya?
Saya baru paham ketika seorang pejuang suku Ayamaru di Kepala Burung, dengan santai melepas seekor cendrawasih yang entah mengapa masuk ke honainya. "Ia bagian dari alam. Dan alam tidak pernah cocok menjadi bagian dari hidup manusia," ujarnya. Saya langsung mengerutkan kening. "Bukankah manusia juga bagian dari alam?" tanya saya. "Ia tertawa. "Sejak kapan?" balasnya dengan nada mengejek. "Sejak mesin-mesin gergaji itu kalian bawa ke pinggiran hutan? Atau sejak rumah-rumah batu kalian dirikan di lembah dan bukit-bukit?"
Bahkan seorang Ayamaru bisa paham dengan jernih korelasi hakiki antara alam dan manusia yang justru baru ditemukan manusia modern belum lama ini. Korelasinya sederhana ; manusia dan alam itu seperti sisi mata uang. Namun karena manusia diberkahi sebuah program maha dahsyat dari Sang Maha Programer, program bernama Akal (Inside), maka manusia memikul kewajiban untuk menjaga agar mata uang itu tidak jatuh ke salah satu sisi. Caranya mudah ; putarkan saja mata uang itu. Keseimbangan terjadi dan hidup pun akan berjalan dengan indah. Namun ketika satu sisi itu mencoba untuk lebih luas, lebih besar, lebih berat dan seterusnya, dari sisi lainnya... keseimbangan hilang. Anda tentu tahu apa yang terjadi seterusnya.
Dan - ini bagian paling menyebalkan - keseimbangan itu telah lama hilang! Sisi manusia di mata uang itu telah jauh lebih besar, lebih luas, lebih berat dari sisi alam. Mata uang itu kini berhenti berputar dan sisi alam berada di bagian tak terlihat. Tertutup, tertekan sisi lainnya - terengah-engah mencari udara untuk tetap hidup.
Bagaimana bisa? Jawabannya juga sederhana ; manusia itu berkembang biak! Dan itulah masalah terbesarnya ; manusia berkembangbiak sementara alam tidak! Jadi, wajar saja jika tidak butuh waktu lama bagi manusia untuk mulai melakukan keahliannya yang paling utama ; merusak. Mungkin awalnya tidak bermaksud begitu. Sebab bagaimanapun, manusia punya cacatan sejarah maha panjang tentang bagaimana mereka hidup berdampingan dengan alam dalam harmonisasi dan keseimbangan yang menentramkan. Namun desakan kebutuhan akhirnya memaksa manusia untuk sedikit demi sedikit melanggar batas keseimbangan itu. Jadi jangan heran jika aktivis pelestaraian alam paling radikal pun bisa kehilangan kata-kata ketika berhadapan langsung dengan manusia yang memang merusak alam untuk sekedar bertahan hidup ; peladang tanpa lahan atau petani garapan. Mereka ini merusak dengan sadar ; saya lapar dan saya butuh sesuatu untuk saya makan! Anda punya makanan? Maukah Anda membaginya dengan saya, istri saya, anak-anak saya?
Tentu saja selalu ada manusia yang melihat kondisi ini dengan kacamata berbeda ; keuntungan pribadi. Dan yang seperti ini memang layak diperangi! Sampai jadi arang kalau perlu! Namun, itu tetap tidak akan menyelesaikan masalah utama ; populasi manusia yang terus membesar. Dengan cepat. Hampir tak tertahankan. Masalah-masalah seperti itu akan selalu ada. Seperti panu yang muncul lalu menyebar ke seluruh tubuh. Masalahnya bukan kulit atau obat! Masalahnya adalah Anda mungkin menggunakan air yang salah untuk mandi, mencuci makanan atau pakaian. Masalahnya adalah Anda tidak bersih!
Jadi masalah kelestarian alam bukanlah masalah sampah atau berapa banyak pohon yang ditebang tiap hari. Percayalah, sampah bisa dihancurkan dan pohon masih bisa tumbuh. Masalah kelestarian alam adalah masalah keengganan kita untuk mengakui kenyataan menyakitkan bahwa eksistensi manusialah penyebab hancurnya alam. Keberadaan dan perkembangan jumlah manusialah masalah intinya. Makin banyak manusia, makin hancurlah alam!
Saya tidak mengatakan bahwa manusia tidak berhak ada atau hidup. Itu sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan salah mengambilkan keputusan ketika Ia menurunkan manusia ke dunia. Tapi, saya juga kerap bertanya-tanya ; Tuhan itu kan Maha Pencipta ya? Mengapa sih, Ia tidak menurunkan kita di planet yang bisa tumbuh membesar juga? Mengapa Ia tidak menurunkan kita di planet seperti kata James Lovelock dalam Hipotesis Gaia-nya ; bumi adalah organisme yang hidup - jadi bumi bisa membesar sesuai kebutuhan jumlah penghuninya? Toh, itu soal mudah untukNya!
Namun, tidakkah itu semua juga memberi kita kesadaran bahwa apapun dalam hidup ini ternyata ada batasnya! Mungkinkah itu juga berlaku bagi perkembangan jumlah manusia? Atau kita hanya akan membiarkan semuanya sampai akhirnya jumlah itu terlalu banyak untuk diterima lantas kematian mengerikan membinasakan kita dengan beragam cara ; genocide dan perang untuk memperebutkan sumberdaya yang tersisa? Kemudian apa yang tersisa? Sumberdaya yang juga tidak lagi bisa diperbaiki? Jadi apa untungnya menang? Saya kerap bertanya-tanya...
Sekali-sekali, coba Anda tanyakan pada para pendaki gunung, pencinta alam, sukarelawan penanaman pohon dan apalah namanya, mengapa mereka melakukan semua itu? Jawabannya - panjang atau pendek, pasti dihiasi kata mencintai alam, melindungi alam, melestarikan alam! Tidak ada seorangpun yang mengatakan ; saya menanam dan memunguti sampah karena saya ingin mengerti!
Mengerti maksud saya? Syukurlah! Kini - jika mau - Anda hanya harus belajar mencintai. Dengan benar. Sebab, menurut saya, ada perbedaan besar antara sekedar mencintai dan mengerti mengapa mesti mencintai. Dan itulah yang kelak akan saya katakan jika putri saya akan mencoba mendaki gunung ; Nak, pertama-tama, mendakilah karena kau ingin belajar mengerti dan mencintai Tuhan! Sebab Dialah Sang Maha Alam! Setelah itu... usahakan tidak punya anak terlalu banyak!
Makara ; mahluk penjaga gerbang . Biasanya ditemukan dalam pahatan pintu-pintu candi. Dan percayakah Anda bahwa setiap manusia memiliki 'penjaga gerbang'nya sendiri? Jika Anda bertanya soal kalimat itu, Anda harus curiga kemana nurani Anda pergi! Sebab, itulah, sang nurani, penjaga gerbang Anda ; batas antara dua sisi berbeda yang ada dalam setiap manusia - jiwa dan raganya. Itu pula sebabnya, kata 'Bacalah' - kata pertama dalam ayat pertama, surat pertama pada kitab suci saya tidak selalu berarti begitu. Jadi mulailah mencari arti yang sebenarnya. Walau terdengar absurd...
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Senin, 24 Oktober 2011
Kamis, 20 Oktober 2011
POPULASI DAN KONSERVASI ATAU GIGIT JARI
Ini sungguhan!
Dan kalimat seterusnya pun sungguhan : semuanya berawal dari masalah populasi!
Mari siapkan waktu – sekitar 30 detik, atau lebih jika Anda mau – untuk membayangkan ini ; sebuah dunia, planet, bernama bumi, dimana semua daratannya berupa padang pasir atau bentangan tanah tandus. Semuanya!
Mengerikan? Tentu saja.
Lalu – ini lebih mengerikan – bayangkan apa yang terjadi pada mahluk-mahluk hidup penghuni bumi yang kita tahu. Apa yang terjadi pada mereka jika bumi hanya sebuah planet kering kerontang tanpa sebatang pohon pun? Apa?
Tidak ada yang terjadi!
Kenapa?
Karena semua mahluk hidup sudah punah lebih dulu!
Nah, yang terakhir ini lebih mengerikan ; semua bayangan itu tidak mustahil terjadi!
Al Gore, mantan wakil presiden AS, penerima Nobel dan konservasionis yang – diakui atau tidak – elegan itu, mengeluh dalam sebuah seminar yang dihadirinya. “Saya,” ujarnya lirih, “… sedih setiap kali diundang seminar soal lingkungan hidup dunia.” Ia menatap peserta acara dengan pandangan sayu. “Terlalu banyak fakta tentang kerusakan mengerikan yang saya miliki dan catat, namun terlalu sedikit waktu yang saya punya untuk membeberkannya pada Anda!”
Waktu, kerusakan dan… Anda semua. Kita.
Inilah masalah lingkungan hidup sekarang ini.
Waktu mengisyaratkan betapa masalah lingkungan hidup muncul lalu terjadi dengan cepat. Teramat cepat. Sementara upaya menanggulanginya justru berlangsung lambat. Sementara kerusakan mengabarkan soal betapa rapuhnya system lingkungan hidup di bumi ini sehingga satu kerusakan memicu kerusakan lainnya.
Lalu Anda semua? Kita? Apa peran kita? Dosa kita? Relevansi kita sebagai bagian dari lingkar-kehidupan ini?
Semuanya!
Bagaimana bisa? Bacalah lagi kalimat di atas tadi ; semuanya berawal dari masalah populasi!
Ini memang sebuah dilema! Di satu sisi, berkembang-biak adalah hak dasar semua mahluk hidup. Di sisi lain, perkembangbiakan membutuhkan sumberdaya – yang sialnya – tidak semua bisa diperbaharui.
Jika Anda pintar, inilah jawaban dari pertanyaan kebingungan kita mengapa masalah lingkungan hidup seperti lingkaran setan ; tidak berujung, berulang-ulang dan membesar! Berulangkali kita melihat kesalahan demi kesalahan dilakukan. Terus menerus. Dengan motivasi yang jelas atau kabur, semuanya berujung pada kenyataan bahwa manusia, dalam soal yang satu ini, seperti mahluk paling bodoh yang bertindak layaknya hewan.
Dan itu tidak sepenuhnya salah. Sebab, bahkan hewan pun berhak berkembang biak!
Maka, lupakan politik, hukum, ekonomi atau budaya dan tetek bengek lainnya. Itu semua cuma bingkai! Batasan yang justru mengikis kesadaran paling mendasar soal masalah terbesar peradaban umat manusia ini. Sayangnya, para konservasionis – yang paling berani sekalipun – kerap terjebak dalam idealisme perjuangannya lalu meneriakan bingkai-bingkai tadi meski mereka mahfum tidak akan ada perubahan!
Jadi inilah yang dibutuhkan umat manusia untuk menghadapi kiamat yang sedang tanpa sadar kita ciptakan sendiri ; kejujuran!
Kejujuran untuk menerima kenyataan bahwa masalah lingkungan hidup adalah sebuah masalah yang sering dipahami dengan salah! Setelah itu, kita butuh keberanian untuk mengambil tindakan yang jelas-jelas mengangkangi hak dasar kita sebagai mahluk hidup ; mengontrol atau – lebih ekstrim lagi – menekan hingga titik terendah perkembangan populasi kita.
Hanya dengan cara itu, bumi memiliki kesempatan untuk menarik napas panjang, sementara pada saat yang bersamaan, manusia melakukan konservasi pada sumberdaya-sumberdaya yang masih bisa dipertahankan dan diperbaharui dengan cepat. Lalu, menyusun dan meletakkan kembali dasar dan cara pandang kita sebagai mahluk paling dominan di rantai makanan planet ini terhadap hak, kewajiban dan gaya hidup kita.
Sebuah pengorbanan besar. Sebuah global-sacrifice!
Tapi ini perlu dilakukan, walaupun hampir tak ada konservasionis yang berani meneriakannya pada dunia, ini tetap harus dilakukan.
Sebab inilah keadilan terbesar yang bisa dipersembahkan manusia pada hidupnya.
Pengorbanan ini harus dilakukan setelah semua kenyamanan dunia yang Anda nikmati tanpa merasa berdosa karena Anda terlalu – maaf - bodoh, naïf, apatis dan merasa berhak! Atau, anak dan cucu Anda akan menggigit jari mereka – untuk menahan lapar dan melampiaskan rasa benci sebelum mengutuki Anda – sebab tak ada lagi sumberdaya yang bisa mereka gunakan untuk bertahan hidup. Jika Anda terlalu bebal, egois dan enggan meninggalkan kenyamanan-kenyamanan yang seringkali berlebihan itu, tidakkah lebih baik Anda meminta maaf pada mereka sekarang? Pandanglah mata mereka dan katakan, “Maaf, sepertinya hanya neraka yang bisa saya wariskan pada kalian semua!”
Terlalu ekstrim?
Ah, kalau saja Anda tahu berapa banyak kerusakan mengerikan seperti yang Al Gore tahu, ekstrim tidak ada relevansinya!
Hutan ada sebelum peradaban.
Padang pasir… sesudahnya!
Chateubriand
(dari BUKU PANDUAN CADWIPALA SMA Negeri 42 Jakarta)
Dan kalimat seterusnya pun sungguhan : semuanya berawal dari masalah populasi!
Mari siapkan waktu – sekitar 30 detik, atau lebih jika Anda mau – untuk membayangkan ini ; sebuah dunia, planet, bernama bumi, dimana semua daratannya berupa padang pasir atau bentangan tanah tandus. Semuanya!
Mengerikan? Tentu saja.
Lalu – ini lebih mengerikan – bayangkan apa yang terjadi pada mahluk-mahluk hidup penghuni bumi yang kita tahu. Apa yang terjadi pada mereka jika bumi hanya sebuah planet kering kerontang tanpa sebatang pohon pun? Apa?
Tidak ada yang terjadi!
Kenapa?
Karena semua mahluk hidup sudah punah lebih dulu!
Nah, yang terakhir ini lebih mengerikan ; semua bayangan itu tidak mustahil terjadi!
Al Gore, mantan wakil presiden AS, penerima Nobel dan konservasionis yang – diakui atau tidak – elegan itu, mengeluh dalam sebuah seminar yang dihadirinya. “Saya,” ujarnya lirih, “… sedih setiap kali diundang seminar soal lingkungan hidup dunia.” Ia menatap peserta acara dengan pandangan sayu. “Terlalu banyak fakta tentang kerusakan mengerikan yang saya miliki dan catat, namun terlalu sedikit waktu yang saya punya untuk membeberkannya pada Anda!”
Waktu, kerusakan dan… Anda semua. Kita.
Inilah masalah lingkungan hidup sekarang ini.
Waktu mengisyaratkan betapa masalah lingkungan hidup muncul lalu terjadi dengan cepat. Teramat cepat. Sementara upaya menanggulanginya justru berlangsung lambat. Sementara kerusakan mengabarkan soal betapa rapuhnya system lingkungan hidup di bumi ini sehingga satu kerusakan memicu kerusakan lainnya.
Lalu Anda semua? Kita? Apa peran kita? Dosa kita? Relevansi kita sebagai bagian dari lingkar-kehidupan ini?
Semuanya!
Bagaimana bisa? Bacalah lagi kalimat di atas tadi ; semuanya berawal dari masalah populasi!
Ini memang sebuah dilema! Di satu sisi, berkembang-biak adalah hak dasar semua mahluk hidup. Di sisi lain, perkembangbiakan membutuhkan sumberdaya – yang sialnya – tidak semua bisa diperbaharui.
Jika Anda pintar, inilah jawaban dari pertanyaan kebingungan kita mengapa masalah lingkungan hidup seperti lingkaran setan ; tidak berujung, berulang-ulang dan membesar! Berulangkali kita melihat kesalahan demi kesalahan dilakukan. Terus menerus. Dengan motivasi yang jelas atau kabur, semuanya berujung pada kenyataan bahwa manusia, dalam soal yang satu ini, seperti mahluk paling bodoh yang bertindak layaknya hewan.
Dan itu tidak sepenuhnya salah. Sebab, bahkan hewan pun berhak berkembang biak!
Maka, lupakan politik, hukum, ekonomi atau budaya dan tetek bengek lainnya. Itu semua cuma bingkai! Batasan yang justru mengikis kesadaran paling mendasar soal masalah terbesar peradaban umat manusia ini. Sayangnya, para konservasionis – yang paling berani sekalipun – kerap terjebak dalam idealisme perjuangannya lalu meneriakan bingkai-bingkai tadi meski mereka mahfum tidak akan ada perubahan!
Jadi inilah yang dibutuhkan umat manusia untuk menghadapi kiamat yang sedang tanpa sadar kita ciptakan sendiri ; kejujuran!
Kejujuran untuk menerima kenyataan bahwa masalah lingkungan hidup adalah sebuah masalah yang sering dipahami dengan salah! Setelah itu, kita butuh keberanian untuk mengambil tindakan yang jelas-jelas mengangkangi hak dasar kita sebagai mahluk hidup ; mengontrol atau – lebih ekstrim lagi – menekan hingga titik terendah perkembangan populasi kita.
Hanya dengan cara itu, bumi memiliki kesempatan untuk menarik napas panjang, sementara pada saat yang bersamaan, manusia melakukan konservasi pada sumberdaya-sumberdaya yang masih bisa dipertahankan dan diperbaharui dengan cepat. Lalu, menyusun dan meletakkan kembali dasar dan cara pandang kita sebagai mahluk paling dominan di rantai makanan planet ini terhadap hak, kewajiban dan gaya hidup kita.
Sebuah pengorbanan besar. Sebuah global-sacrifice!
Tapi ini perlu dilakukan, walaupun hampir tak ada konservasionis yang berani meneriakannya pada dunia, ini tetap harus dilakukan.
Sebab inilah keadilan terbesar yang bisa dipersembahkan manusia pada hidupnya.
Pengorbanan ini harus dilakukan setelah semua kenyamanan dunia yang Anda nikmati tanpa merasa berdosa karena Anda terlalu – maaf - bodoh, naïf, apatis dan merasa berhak! Atau, anak dan cucu Anda akan menggigit jari mereka – untuk menahan lapar dan melampiaskan rasa benci sebelum mengutuki Anda – sebab tak ada lagi sumberdaya yang bisa mereka gunakan untuk bertahan hidup. Jika Anda terlalu bebal, egois dan enggan meninggalkan kenyamanan-kenyamanan yang seringkali berlebihan itu, tidakkah lebih baik Anda meminta maaf pada mereka sekarang? Pandanglah mata mereka dan katakan, “Maaf, sepertinya hanya neraka yang bisa saya wariskan pada kalian semua!”
Terlalu ekstrim?
Ah, kalau saja Anda tahu berapa banyak kerusakan mengerikan seperti yang Al Gore tahu, ekstrim tidak ada relevansinya!
Hutan ada sebelum peradaban.
Padang pasir… sesudahnya!
Chateubriand
(dari BUKU PANDUAN CADWIPALA SMA Negeri 42 Jakarta)
DIMANAKAH SEMAK BELUKAR? DIMANAKAH ELANG?
Tahun 1854, Pemimpin Besar Orang Kulit Putih di Washington menyatakan keinginan untuk membeli tanah milik orang Indian yang luas dan berjanji akan memberikan mereka tanah perlindungan. Jawaban Kepala Suku Indian Seattle – ditulis di sini secara lengkap – dianggap sebagaipernyataan mengenai hubungan antara manusia dan lingkungan hidup yang indah.
...
Udara sangat berharga bagi orang kulit merah, karena semua berbagi nafas dengannya – binatang, pohon dan manusia. Orang kulit putih tidak memperhatikan udara yang dihirup. Seperti orang yang sudah mati beberapa hari, ia kebal dengan bau busuk.
Jika tanah ini kami jual kepada Tuan, Tuan harus ingat kalau udara sangat penting bagi kami, kalau udara membagi esensinya dengan semua yang ia tunjang kehidupannya. Angin yang memberi nafas pertama kepada kakek kami juga menerima nafas terakhir darinya. Jika kami menjual tanah kepada Tuan, Tuan harus memisahkan dan memuliakannya sebagai tempat dimana orang kulit putih pun dapat menikmati angin, yang dipermanis oleh aroma bebungaan padang rumput.
Jadi kami akan mempertimbangkan permintaan Tuan untuk membeli tanah kami. Jika kami setuju, saya mau mengajukan satu syarat. Orang kulit putih harus memperlakukan binatang-binatang di atas tanah ini sebagai saudara laki-laki. Saya orang biadab dan saya tidak mengerti cara lainnya.
Saya telah melihat ribuan kerbau yang membusuk di padang rumput, ditinggalkan begitu saja oleh orang kulit putih yang menembakinya dari kereta api yang sedang berjalan. Saya orang biadab dan tidak mengerti kepada kuda besi berasap dianggap lebih penting dari pada kerbau yang kami bunuh demi hanya untuk menyambung hidup.
Apakah artinya manusia tanpa binatang? Jika semua binatang punah, manusia akan mati karena kesepian yang luar biasa. Karena apapun yang terjadi pada binatang akan terjadi pula secara cepat pada manusia. Semua hal saling bertalian.
Tuan harus mengajari anak-anak Tuan kalau tanah di bawah telapak kaki mereka adalah abu dari kakek-kakek Tuan. Agar mereka menghargai tanah, ceritakanlah kepada mereka kalau bumi ini kaya dengan kehidupan. Ajarkanlah kepada anak-anak Tuan seperti kami mengajarkan kepada anak-anak kami, bahwa bumi adalah ibu kita. Apa yang terjadi pada bumi akan terjadi pada anak-anak kami. Jika orang meludahi tanah, maka ia meludahi dirinya sendiri.
Yang kami ketahui bumi tidak dimiliki orang. Oranglah yang dimiliki bumi. Kami tahu, semua hal saling bertalian. Seperti darah yang menyatukan keluarga. Apa yang terjadi dengan bumi akan terjadi pada anak-anak kami. Manusia tidak merajut jaring-jaring kehidupan. Ia hanyalah bagian kecil dari padanya. Apa yang ia perbuat terhadap jaring kehidupan adalah tindakan yang dilakukan terhadap dirinya sendiri. Bahkan orang kulit putih, yang Tuhannya berjalan dan berbicara dengannya seperti teman kepada teman, tidak dapat dikecualikan dari nasib bersama. Kita semua pada akhirnya bersaudara. Kita akan melihatnya. Satu hal yang kita ketahui, yang pada suatu hari akan disadari pula oleh orang kulit putih – Tuhan kita adalah Tuhan yang sama.
Sekarang Tuan boleh berpendapat bahwa Tuan memiliki Dia, sebagaimana Tuan ingin memiliki tanah kami. Tetapi tidak mungkin Tuan memilki Dia sendiri. Dia adalah Tuhan dari semua manusia, yang perhatiannya sama besar baik kepada orang kulit merah maupun orang kulit putih. Bumi ini amat berharga bagi Dia. Merusak bumi akan membangkitkan balas dendam Sang Pencipta. Orang kulit putih juga akan lenyap, mungkin lebih cepat dari suku-suku lainnya. Kotorilah ranjang Tuan, maka suatu malam Tuan akan tercekik oleh kotoran Tuan sendiri.
Pada saat Tuan mati, Tuan akan bersinar terang, dibekali kekuatan Tuhan yang membawa Tuan ke tanah ini, untuk tujuan istimewa Tuan, kekuasaan atas tanah ini dan atas orang kulit merah.
Takdir adalah suatu misteri bagi kami, karena kami tidak tahu kapan semua kerbau habis disembelih, kuda liar dijinakan, sudut-sudut rahasia hutan dipenuhi bau orang banyak dan bukit-bukit dipenuhi kabel-kabel berbicara.
Di manakah semak belukar? Hilang.
Di manakah elang? Lenyap.
Di sinilah kehidupan berakhir.
Dan, kehidupan baru pun dimulai!
Langganan:
Postingan (Atom)
