Anda yang tidak pernah memanjat tebing, pasti tidak percaya. Tapi, mari lihat bukti-buktinya :
MEDAN
Rock Climbing : Dilakukan di medan vertikal. Jika dilakukan di medan horizontal, namanya berubah menjadi bouldering atau... window shopping!
Seks : Biasanya dilakukan di medan horizontal, apapun teknik atau posisinya. Dilakukan secara vertikal jika tidak punya ranjang, tidak punya uang untuk sewa kamar atau memang penyuka quickie...
TANTANGAN
Rock Climbing : Melawan gravitasi.
Seks : Memanfaatkan gravitasi dan... pegas kasur. Kecuali kasurnya kapuk atau busa.
TEKNIK
Rock Climbing dan seks, sama-sama memanfaatkan lekukan, tonjolan dan rekahan atau lubang. Bedanya pada resiko jika salah memanfaatkan hal-hal tadi ;
Rock Climbing : Biasanya teriakan, "Faaaalll... aaarghh... gebubrak!" (umumnya wafat).
Seks : Bisa dipastikan jeritan, "Adooouw... kurang ajar lu!" atau "Hhwaaa... deziiig!" diikuti bunyi PLAK!
PUNCAK
Rock Climbing : Ekspresi dan euphoria teriak-teriak, loncat-loncat dan kibar bendera.
Seks : Ekspresi merem melek. Paling sial, "Udah nih? Segini aja?" Kibar bendera? Please deh...
Makara ; mahluk penjaga gerbang . Biasanya ditemukan dalam pahatan pintu-pintu candi. Dan percayakah Anda bahwa setiap manusia memiliki 'penjaga gerbang'nya sendiri? Jika Anda bertanya soal kalimat itu, Anda harus curiga kemana nurani Anda pergi! Sebab, itulah, sang nurani, penjaga gerbang Anda ; batas antara dua sisi berbeda yang ada dalam setiap manusia - jiwa dan raganya. Itu pula sebabnya, kata 'Bacalah' - kata pertama dalam ayat pertama, surat pertama pada kitab suci saya tidak selalu berarti begitu. Jadi mulailah mencari arti yang sebenarnya. Walau terdengar absurd...
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan Alam Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan Alam Bebas. Tampilkan semua postingan
Selasa, 29 April 2014
Selasa, 15 Januari 2013
AYO, JADI ORANG TUA TANGGAP BENCANA!
Ayah, ibu... tidak bermaksud menakut-nakuti lho… tapi suka atau tidak, Anda hidup di negara paling rawan bencana di dunia! Kesadaran untuk menjadi individu tanggap bencana menjadi sangat penting. Apalagi kalau Anda memiliki anak-anak yang masih bayi atau balita. Sebab, data menunjukkan, anak-anak adalah individu paling rentan terhadap bencana.
Menumbuhkan kesadaran tanggap bencana memang sebuah kerja keras dan sering kali terlihat percuma. Namun jangan patah arang. Jangan menunggu program pemerintah. Jangan mengandalkan naluri dan kebiasaan. Berinisiatiflah! Karena hanya inisiatif untuk mempersiapkan diri yang mungkin bisa menyelamatkan Anda dan keluarga Anda.
Apa Itu Bencana?
Secara umum, bencana bisa diartikan sebagai sebuah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Teorinya, ada dua jenis bencana ; bencana alam – natural disaster dan bencana artifisial atau bencana yang datang dari obyek buatan manusia – man made hazard. Bencana alam meliputi gempa, letusan gunung berapi, banjir, tsunami, angin topan, tanah longsor dan sebagainya. Sedangkan bencana artifisial misalnya kebocoran reaktor nuklir, kelaparan, kebakaran, kegagalan usaha penambangan dan sebagainya. Lalu ada juga bencana yang disebabkan benda luar angkasa seperti meteor. Namun ini jarang terjadi.
Banyak ahli bencana sepakat bahwa apapun bentuknya, tidak ada bencana tunggal. Sebuah bencana biasanya diikuti oleh bencana lain. Gempa diikuti tsunami, letusan gunung berapi diikuti kebakaran hutan dan seterusnya. Jika sebuah bencana memakan banyak korban yang jenasahnya tidak bisa ditangani dengan baik, bisa saja muncul bencana wabah penyakit. Dalam beberapa buku panduan mengenai bencana alam disebutkan ada 2 faktor yang membuat sebuah bencana memakan banyak korban. Yang pertama waktu. Ini faktor yang masih tidak bisa diprediksi. Bencana yang terjadi pada saat malam hari, biasanya meminta korban lebih besar. Lalu faktor tempat. Yang ini masih bisa dikira-kira, meski tidak akurat.
Faktor lain yang membuat bencana memakan banyak korban adalah pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Faktor ini sebenarnya bisa menjadi penyeimbang 2 faktor lainnya tadi. Jika sebuah masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana paham dan tanggap serta terlatih menghadapi bencana, mereka cenderung mampu bertindak dengan cepat dan efektif untuk menyelamatkan diri karena telah mempersiapkan diri.
Paling Rawan
Di Indonesia, bencana alam hampir menjadi keniscayaan. Bagaimana tidak! Letak geografis dan kondisi geologis Indonesia membuat negara kita merupakan daerah yang paling rawan bencana alam (lihat Boks ; Rawan Bencana No. 1 Di Dunia)
Secara geografis, Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudera. Dulu, kondisi ini sangat nyaman. Indonesia berada pada posisi yang sangat strategis. Berada di antara dua benua Asia dan Australia merupakan potensi ekonomi yang sangat luar biasa. Demikian pula berada diantara dua samudera Hindia dan Pasifik yang juga menjadi pertemuan antara arus panas dan arus dingin membuat laut Indonesia kaya akan biodiversity. Sekarang, ketika cuaca dan iklim berubah drastis akibat ulah manusia, Indonesia menjadi kawasan yang juga terkena dampaknya. Contoh, dulu hampir tidak ada catatan mengenai bencana angin topan. Kini, topan kerap melanda daerah-daerah di Indonesia meski tidak sehebat seperti kawasan lain. Perubahan cuaca juga membuat dampaknya makin sulit diprediksi. Musim hujan yang tidak tentu menghantui daerah-daerah rawan banjir dengan bencana yang bisa datang kapan saja. Belum lagi bencana macam tanah longsor dan air bah.
Namun, kondisi geologis merupakan faktor paling menentukan. Indonesia merupakan tempat dimana tiga lempeng utama dunia bertemu ;. Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Indo Australia yang menyebabkan Indonesia rawan akan bencana gempa. Lempeng Indo-Australia bergerak relatif ke arah utara dan menyusup ke bawah lempeng Eurasia. Sementara lempeng Pasifik bergerak relatip ke arah barat. Jalur pertemuan lempeng yang berada di laut jika terjadi gempa bumi besar dengan kedalaman dangkal maka berpotensi menimbulkan tsunami sehingga Indonesia juga rawan tsunami.
Pada daerah-daerah yang secara langsung menjadi titik pertemuan ketiga lempeng tersebut, seperti Sumatera Bagian Selatan, Jawa Bagian Selatan dan beberapa daerah lain, gempa dalam skala kecil seolah-olah menjadi santapan sehari-hari. Dan bukan kebetulan pula, selain pertemuan ketiga lempeng tersebut, dalam peta vulkanologis dunia, Indonesia juga berada pada jalur Cincin Api Pasifik ; gugusan gunung berapi di kawasan Pasifik yang mengakibatkan jalur yang dilalui rawan letusan gunung api dan gempa vulkanik.
Mengubah Paradigma
Oke, lantas apa yang mesti kita lakukan?
Yang pertama dan terpenting adalah mengubah paradigma ; meyakini bahwa Anda, keluarga Anda dan teman-teman Anda, bisa menjadi korban bencana. Ini akan menumbuhkan kewaspadaan! Jangan sepenuhnya merasa aman. Masalahnya ; semua orang enggan mengakui kemungkinan ini karena tidak mau memikirkannya! Di masyarakat relijius dan berbudaya timur, ada semacam anggapan, memikirkan musibah sama saja berharap itu terjadi! Pertanyaannya, benarkah itu?
Jika yakin jawabannya tidak dan Anda sudah cukup sadar dan waspada, yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan diri. Kunci utama dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana adalah Manajemen Bencana, Disaster Management. Ini manajemen yang menjadi pegangan bagi badan-badan penanggulangan bencana seperti BNPB – Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan BASARNAS – Badan SAR Nasional di Indonesia dan di hampir semua negara.Secara umum manejemen ini bekerja berdasarkan data-data potensi bahaya. Lalu dirancang prosedur jika bencana benar-benar terjadi. Terakhir, disusun pula bagaimana harus bertahan hidup setelah bencana terjadi, prosedur penyelamatan juga proses pemulihan. Dalam skala massal, menejemen ini rumit dan melibatkan banyak pihak dengan beragam faktor dan pertimbangan. Tapi, tahukah Anda bahwa manajemen ini sebenarnya bisa diterapkan pada Anda dan keluarga Anda?
Yang pertama, kumpulkan data-data mengenai potensi bahaya di sekitar Anda dan keluarga ; kota, lingkungan, rumah dan kantor. Jika kota Anda rawan gempa atau tsunami, maka titik-titik seperti pantai, jembatan, gedung-gedung, bahkan jalan layang adalah potensi bahaya. Kalau Anda harus melewati jalan layang menuju ke kantor, mungkin setelah gempa terjadi, jalan itu tidak lagi aman digunakan atau bahkan runtuh. Anda harus memiliki rute lain.
Yang pertama, kumpulkan data-data mengenai potensi bahaya di sekitar Anda dan keluarga ; kota, lingkungan, rumah dan kantor. Jika kota Anda rawan gempa atau tsunami, maka titik-titik seperti pantai, jembatan, gedung-gedung, bahkan jalan layang adalah potensi bahaya. Kalau Anda harus melewati jalan layang menuju ke kantor, mungkin setelah gempa terjadi, jalan itu tidak lagi aman digunakan atau bahkan runtuh. Anda harus memiliki rute lain.
Selain memiliki data potensi bahaya, Anda juga harus tahu data-data sarana-sarana pelayanan umum penting yang Anda butuhkan, misalnya rumah sakit, pemadam kebakaran dan kantor SAR juga pasar. Di mana sarana-sarana ini berada dan bagaimana Anda mencapai atau menghubunginya dari rumah, kantor atau sekolah setelah bencana, harus Anda rencanakan pula.
Langkah selanjutnya adalah menyiapkan peta kota Anda. Kalau memungkinkan, pilih peta terbaru dengan informasi terlengkap. Lalu, ke dalam peta itu, proyeksikan data-data potensi bahaya dan data-data sarana yang telah Anda kumpulkan. Di tahap ini, Anda akan mendapat gambaran lebih jelas mengenai tingkat kerentanan Anda dan keluarga Anda terhadap bencana.
Lalu buatlah skenario bencana ; apa yang harus dilakukan jika gempa, misalnya, terjadi saat Anda berada di kantor di lantai 24 dan anak Anda berada di sekolahnya, 10 kilometer dari kantor Anda. Apa yang harus dilakukan saat bencana berlangsung. Dimana harus berkumpul setelah bencana terjadi. Ingat, skenario ini harus dirancang dengan pemahaman bahwa setelah bencana, mungkin semua fasilitas yang biasa kita gunakan sehari-hari, tidak bekerja ; listik padam, telepon tidak berfungsi dan seterusnya. Anda harus merancang semuanya dengan asumsi bahwa tidak ada yang bisa membantu Anda dan keluarga kecuali diri Anda sendiri.
Idealnya, setelah menyusun skenario bencana untuk keluarga, Anda juga melibatkan lingkungan sekitar rumah, kantor dan sekolah. Rancanglah skenario bencana untuk tiap-tiap lingkungan itu. Lalu berlatihlah menghadapi bencana ; apa yang mesti dilakukan saat gempa, tsunami, banjir dan seterusnya. Latih semua anggota keluarga, terutama anak-anak Anda untuk menyelamatkan diri mereka dengan efektif. Latih juga pembantu rumah tangga atau babysitter Anda. Sekarang banyak lho, organisasi professional dan nirlaba yang menyediakan jasa pelatihan seperti ini. Ada kelompok Disaster Mitigation and Readiness, Yayasan Survival Indonesia dan Situgunung Firecamp Survival School (cieee...). Umumnya mereka memiliki latar belakang pencinta alam dan aktivis SAR.
Nah, ayah, ibu... tunggu apa lagi? Ayo, jadi orang tua tanggap bencana! Jika Anda enggan melakukannya untuk diri Anda sendiri, lakukanlah untuk anak-anak Anda dan semua orang yang Anda sayangi!
BOKS : RAWAN BENCANA NO 1 DI DUNIA
Indonesia merupakan negara yang paling rawan bencana alam di dunia menurut United Nations International Stategy for Disaster Reduction – UNISDR ; Badan PBB untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana. Berbagai bencana alam mulai gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran hutan rawan terjadi di Indonesia. Untuk beberapa jenis bencana alam, Indonesia menduduki peringkat pertama dalam paparan terhadap jumlah manusia yang menjadi korban.
Dari berbagai jenis bencana alam, UNISDR merangking jumlah korban pada 6 jenis bencana alam yang meliputi tsunami, tanah longsor,banjir, gempa bumi, angin topan, dan kekeringan. Dari keenam jenis bencana alam tersebut, Indonesia menduduki peringkat pertama pada dua bencana alam yakni tsunami dan tanah longsor, peringkat ketiga pada gempa bumi dan peringkat keenam pada banjir. Hanya di dua bencana alam yakni kekeringan dan angin topan, Indonesia absen.
- Tsunami - dari 265 negara Indonesia peringkat pertama dengan 5.5 juta orang korban. Mengalahkan Jepang 4.5 juta korban, Bangladesh 1.6 juta korban, India 1.2 juta korban dan Filipina 900 ribu korban.
- Tanah Longsor - dari 162 negara Indonesia peringkat pertama dengan 200 ribu korban, mengungguli India 180 ribu korban, China 122 ribu korban, Filipina 111 ribu korban dan Ethiopia 65 ribu korban.
- Gempa Bumi - dari 153 negara Indonesia peringkat ketiga dengan 12 juta korban setelah Jepang 13,5 juta korban dan Filipina 12,2 juta korban. Dua peringkat di bawah Indonesia adalah China 8.2 juta korban dan Taiwan 6,7 juta korban.
- Banjir - dari 162 negara Indonesia berada diurutan ke-6 dengan 1,2 juta korban. Peringkat sebelumnya Bangladesh 19,3 juta korban, India 15,9 juta korban, China 3,9 juta korban, Vietnam 3,5 juta korban dan Kamboja 1,8 juta korban.
- Angin Topan - peringkat pertama Jepang dengan 22,6 juta korban disusul oleh Filipina, China, India, dan Taiwan.
- Kekeringan - peringkat pertama China dengan 71,3 juta korban disusul India, Amerika Serikat, Pakistan, dan Ethiopia.
BOKS : DAMPAK BENCANA PADA PSIKOLOGIS ANAK
Anak-anak adalah anggota keluarga paling rentan terhadap bencana dan dampak bencana. Bencana mengakibatkan kehilangan jiwa, harta benda dan menurunnya kondisi ekonomi. Bagi anak-anak, peristiwa yang terjadi dengan cepat dan menimbulkan perubahan yang besar, bisa mengakibatkan trauma. Setelah itu, munculah Post Traumatic Stress Disorder, PTSD – gejala stress paska trauma. Gejala ini bisa membayangi kehidupan penderitanya hingga puluhan tahun bahkan seumur hidup. Biasanya, penderita PTSD akan sangat terpukul, marah, kecewa, cemas, gelisah, takut dan waspada secara berlebihan. Mereka cenderung menarik diri karena kehilangan kepercayaan dan merasa tidak berdaya. Kondisi kejiwaan mereka umumnya rentan terhadap gangguan.
Itu sebabnya, anak-anak korban bencana harus ditangani secara komprehensif. Komisi Perlindungan Anak menyatakan bahwa penanganan anak-anak korban bencana tidak boleh bersifat sementara atau hanya berupa hiburan sesaat. Pusat Kajian Perlindungan Anak, mengungkapkan bahwa seringkali penyembuhan trauma dan kesehatan anak kurang mendapat perhatian. Apalagi dalam kondisi darurat, anak-anak kerap menjadi korban eksploitasi ekonomi, kehilangan tempat aman dan keterasingan.
Sayangnya, Indonesia belum memilki sistem penanganan bencana yang komprehensif dimana penanganan anak-anak menjadi bagian dari sistem itu. Jadi, kita saat ini harus mengedepankan upaya pribadi, keluarga dan kelompok sosial, institusi formal dan non-formal - sekolah, panti asuhan, pesantren dan sebagainya - serta lingkungan untuk menangani masalah tersebut. Inilah pentingnya sosialisasi tanggap bencana.
Hal pertama yang harus dilakukan untuk mengatasi gangguan psikologis pada anak-anak paska bencana adalah dengan memberi mereka tempat dan perasaan yang aman, perlindungan dan perhatian. Secara naluriah, anak-anak membutuhkan perlindungan dan perlindunganlah yang harus Anda berikan. Lalu tumbuhkan semangat dan keberanian mereka. Jangan terus menerus mengalihkan perhatian. Membimbing mereka menerima fakta dan kondisi justru lebih sehat bagi perkembangan jiwa mereka. Bagi anak-anak yang telah mendapat pendidikan bencana, upaya penyembuhan biasanya lebih mudah dilakukan karena mereka telah memiliki informasi dan pengetahuan mengenai bencana dan dampaknya.
Namun sebelumnya, sebagai orang tua, Anda harus tanggap bencana terlebih dulu. Sebab, bagaimana Anda bisa melindungi anak-anak Anda dari trauma paska bencana jika Anda pun tidak siap menghadapinya?
BOKS : URBAN SURVIVAL KITS
Sekitar pertengahan 1980-an, PBB mensponsori pembentukan INTERSAR – International Search And Rescue. Namun karena dianggap tidak efektif, badan semiformal ini dibubarkan dan diganti INSARAG - International Search and Rescue Advisory Group. INTERSAR sempat menerbitkan beberapa buku panduan praktis untuk masyarakat. Salah satunya adalah panduan untuk membuat Urban Survival Kits.
Survival Kits adalah bagian dari metode atau sistem untuk bertahan hidup. Metode ini diejawantahakan dalam bentuk penyiapan alat-alat yang bisa membantu untuk bertahan hidup setelah bencana terjadi. Para penyuka kegiatan alam bebas seperti pendaki gunung, penjelajah gua dan lainnya, sangat familiar pada metode ini. Mereka biasanya membawa kotak kecil berisi peralatan esensial yang bisa membantu mereka untuk bertahan hidup dalam kondisi darurat. Nah, Urban Survival Kits, adalah metode yang dirancang untuk membantu korban bencana yang tinggal di daerah perkotaan agar mereka bisa bertahan hidup setelah bencana.
Urban Survival Kits sangat penting artinya ketika korban berhadapan dengan situasi dimana semua penunjang kehidupan lumpuh. Bayangkan ini ; listrik padam, aliran air mati, sinyal selular hilang, pasar dan sarana transportasi tidak berfungsi. Begitu juga rumah sakit dan siaran TV. Semua lumpuh total. Anda harus bisa bertahan hidup dengan apapun yang Anda miliki. Bagaimana jika Anda memiliki anak-anak? Bagaimana mereka bisa bertahan?
Sebenarnya, Urban Survival Kits adalah sekumpulan peralatan yang mungkin sangat Anda butuhkan dalam kondisi darurat. Dari fungsinya, alat-alat ini terbagi menjadi alat pertolongan pertama (P3K), makanan dan air, alat penerangan, alat komunikasi dan alat-alat esensial lain. Semua peralatan itu dimasukan dalam wadah khusus yang tahan air dan cukup kuat. Biasanya Urban Survival Kits disimpan di tempat yang bisa diakses oleh semua anggota keluarga. Saat bencana, keluarga yang tanggap bencana biasanya menyelamatkan diri dengan membawa Urban Survival Kits mereka.
Tidak ada patokan berapa banyak alat-alat yang bisa Anda masukan dalam kotak Urban Survival Kits Anda. Sebab Urban Survival Kits bersifat pribadi. Anda bisa saja membeli Urban Survival Kits yang kini banyak tersedia di pasaran. Namun, tentu saja Urban Survival Kits ini tidak selalu sesuai kebutuhan. Atau Anda bisa membuatnya sendiri. Jika Anda ingin membuat Urban Survival Kits untuk keluarga, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Yang pertama, jumlah anggota keluarga. Lalu, jumlah item Urban Survival Kits disusun berdasarkan skala kegunaan, hanya berisi alat-alat paling penting. Jadi, jangan memaksa untuk memasukan laptop Anda ke dalam daftar, misalnya. Kedua, jumlah per-item Urban Survival Kits disusun berdasarkan skala kebutuhan – bukan kebiasaan. Kebutuhan manusia akan minum sehari adalah 8 gelas air. Ini menjadi patokan, walaupun sehari-hari Anda biasa minum hanya 4-5 gelas saja. Jelasnya, skala prioritas itu seperti dibawah ini :
- Makanan dan Air - Air merupakan kebutuhan paling penting. Tanpa air, tubuh Anda bahkan tidak bisa melakukan metabolisme. Prioritaskan air untuk minum. Jika Anda memiliki bayi atau balita, pertimbangan jenis makanan yang bisa mereka konsumsi. Makanan harus tahan lama dan praktis. Pertimbangkan ragam makanan untuk menghindari kebosanan. Anda harus memutuskan jenis dan jumlah makanan dan air dalam takaran yang seimbang.
- Peralatan P3K- Masukan obat-obatan umum dan pribadi masing-masing anggota keluarga. Jangan lupa masukan pula alat-alat seperi gunting kecil dan alat bantu CPR. Buku panduan P3K praktis juga harus dimasukan. Tablet penjernih air layak pula Anda masukan dalam daftar ini.
- Alat Perlindungan - Jika keluarga Anda kehilangan tempat tinggal, tenda darurat menjadi pilihan untuk berlindung. Di pasaran banyak tersedia tenda ringkas dan praktis – tube tent, namun tahan cuaca. Masukan pula jas hujan, poncho atau lembar plastik besar. Jangan lupa masker dan sarung tangan plastik.
- Alat Masak - Memasak tetap menjadi aktifiitas penting. Ini berhubungan dengan sanitasi dan kesehatan. Jadi, siapakan alat masak praktis berikut kompor portabel praktis – kompor untuk kemping adalah pilihan yang paling baik - berbahan bakar gas atau parafin. Masukan pula kantung plastik dan aluminium foil untuk menyimpan makanan. Jangan lupa botol air atau termos praktis.
- Alat Penerangan - Saat bencana terjadi, biasanya aliran listrik padam atau dipadamkan untuk mengurangi bahaya. Nah, alat penerangan seperti senter atau lilin tahan lama – survival candle, menjadi krusial. Di pasaran, kini tersedia senter yang baterenya bisa di-charge dengan solar-panel. Anda hanya butuh sinar matahari. Jika mau, masukan lampu listrik yang baterenya juga bisa di-charge.
- Alat Sanitasi - Masukan sabun mandi, pasta dan sikat gigi dan handuk praktis ke dalam daftar. Juga sebungkus cotton-bud dan wet-tissue.
- Alat Bantu lainnya - Misalnya tali, jika rumah Anda berlantai dua atau Anda tinggal di apartemen. Tali juga berguna untuk beragam kebutuhan. Siapkan beberapa ukuran. Juga linggis, untuk membantu Anda membersihkan reruntuhan di sekitar rumah. Duct-tape (lakban), bisa memjadi alat bantu yang banyak fungsinya. Begitu juga pisau lipat serbaguna. Lalu tissue kering dan basah dan lap penyerap air. Jangan lupa masukan satu atau dua alat-alat permainan untuk anak-anak. Ini bisa membantu untuk sementara mengalihkan perhatian mereka terhadap situasi pasca bencana yang pasti tidak menyenangkan.
- Fotokopi Surat-surat Berharga - Ini seringkali dilupakan. Padahal bencana bisa saja menghancurkan dokumentasi surat-surat berharga Anda ; akte, ijasah, surat-surat berharga dan sebagainya. Jika mau, Anda bisa membuat cadangan dengan cara men-scan surat-surat berharga Anda dan menyimpannya di flashdisk kecil.
- Uang - Betapapun besarnya bencana, uang selalu berharga! Jadi, siapakan sejumlah uang tunai untuk berjaga-jaga. Jangan memperlihatkan uang Anda kecuali untuk kebutuhan mendesak. Ingat, tindak kriminal setelah bencana, sangat mungkin terjadi.
Satu lagi, betapapun canggih dan lengkapnya sebuah Surviaval Kits, semuanya tidak berguna jika Anda tidak terlatih menggunakannya. Ingat, survival adalah permainan mental. Anda minimal harus menguasai keterampilan survival dasar agar bisa menggunakan Survival Kits dengan efektif.
BOKS : AMANKAH KOTA SAYA?
Mari kita bicara secara terbuka. Mari kita abaikan dulu semua analisa ilmiah dan mengedepankan kemungkinan. Sebab, toh, bencana bukan sesuatu yang bisa ditebak bukan? Pertanyaannya ; amankah daerah tempat saya tinggal? Amankan kota saya? Berikut adalah fakta-fata potensi bencana yang mengancam kota-kota besar di pulau Jawa. Silahkan Anda mencari data untuk kota Anda sendiri ; berselancar di dunia maya atau mencari informasi di lembaga bencana yang ada di kota Anda.
- JABODETABEK – Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. - Jabodetabek, kawasan megapolitan terbesar dan terluas di Indonesia, dikepung oleh beberapa sesar ; Sesar Cimandiri dan Sesar Selat Sunda mungkin ancaman utama. Namun, ada juga Patahan Ciputat yang berada tepat dibawah Jakarta. Sesar Cimandiri merupakan sesar paling aktif di Pulau Jawa. Sesar ini mengancam kota-kota lain seperti Sukabumi, Cianjur hingga Bandung. Jabodetabek, terutama Jakarta, juga rawan banjir. Selain itu, Jabodetabek diancam oleh bahaya kebakaran, tanah longsor hingga air bah.
- BANDUNG - Bandung juga diancam oleh Sesar Cimandiri. Namun ancaman yang mungkin paling serius adalah ancaman Patahan Lembang. Ini bisa sangat mengkhawatirkan karena patahan itu salah satu lajur sumber gempa bumi aktif naik. Disebut patahan naik, karena patahan Lembang cenderung miring ke selatan. Patahan naik merupakan jenis patahan bertipe kompresi sehingga berpeluang melahirkan gempa-gempa bersifat kompresif dengan kekuatan besar. Potensi bahaya lain yang mungkin mengancam Bandung adalah banjir, kebakaran, tanah longsor dan letusan gunung berapi.
- SEMARANG - Semarang diancam oleh beberapa patahan kecil. Begitupun, kota ini relatif aman dari gempa dibanding kota-kota besar lain di Jawa. Namun, Semarang juga diancam oleh banjir dan tanah longsor serta kebakaran, terutama jika tatakota tidak segera dibenahi.
- YOGYAKARTA - Yogyakarta merasakan dahsyatnya gempa dari Patahan Opak beberapa waktu lalu. Patahan ini memang unik. Sebagian ahli menyebutnya patahan normal sebagian ahli percaya bahwa patahan ini jenis patahan naik. Apapun, patahan ini sudah memberi bukti kekuatannya. Yogyakarta diancam pula oleh bahaya banjir, kebakaran, letusan gunung berapi dan tanah longsor.
- GERBANGKARTASUSILO – Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan. - Gerbangkartasusilo adalah kawasan megapolitan terbesar kedua di Indonesia. Sesar Grindulu di daerah Pacitan, merupakan sesar yang bisa menjadi ancaman bagi kawasan Gerbangkartasusila. Memang, Sesar Grindulu adalah salah satu sesar utama di Pulau Jawa selain Sesar Cimandiri dan Sesar Opak. Belum lagi sesar-sesar minor lainnya.
Sekali lagi bersikaplah skeptis. Tapi ini tidak berarti paranoia lho. Ada perbedaan besar antara tanggap-waspada dengan panik-paranoia. Jadi, be prepared, parents! Be ready!
Selasa, 25 September 2012
URBAN SURVIVAL KITS VS TUHAN : Ya Menang Tuhan Laaah!
Beberapa tahun lalu, saat ikut pelatihan SAR, seorang teman
menyodorkan buku Urban Survival. Isinya bagus. Soal cara dan teknik bertahan
hidup di daerah perkotaan saat bencana.
Memang tidak ada hubungannya dengan pendidikan yang sedang saya ikuti.
SAR ya SAR. Tapi tidak ada SAR kalau tidak ada bencana dan korban. Nah, buku
ini, adalah soal bagaimana korban bisa bertahan hidup sampai pertolongan
datang.
Kalau saya menganggap bagus, itu karena saya sadar bahwa
saya, keluarga saya, teman-teman saya bersama orang-orang yang tidak saya
kenal, hidup di sebuah negeri rawan bencana. Indonesia itu menempati urutan ke
3 rawan banjir. Ke 2 rawan gempa dan tsunami. Belum lagi bencana-bencana lain
seperti letusan gunung api, longsor, kebakaran sampai kejatuhan meteor. Total,
Indonesia masuk 5 negara paling rawan bencana di dunia.
Lucunya, banyak orang Indonesia tidak terlalu peduli soal
itu.
Tidak percaya?
Jawab pertanyaan ini ; berapa titik sepanjang rumah sampai
kantor Anda yang bisa menjadi sumber bencana? Berapa banyak potensi bahya
sepanjang jalan dari rumah hingga sekolah anak Anda? Jika bencana datang dan
Anda (bersama keluarga) terisolir dari dunia luar, bagaimana nasib Anda dan
keluarga? Bagaimana menemukan mereka? Mengobati mereka? Melindungi mereka dari
bahaya selanjutnya?
Seorang teman langsung sewot saat saya tanyakan soal itu
padanya ; “Elu tuh! Dikasih aman bukannya bersyukur, malah ngebayangi yang
nggak-nggak?"
Benar juga sih! Tapi apa sih, aman itu? Seberapa lama aman
itu? Betulkah aman itu bisa kita nikmati terus menerus?
Jadi, saya kesampingkan soal gerutuan teman saya itu. Saya
beruntung mendapat artikel dari badan SAR Internasional bentukan PBB. Isinya
soal bagaimana Anda dan keluarga merancang disaster scenario yang bisa
diterapkan untuk kondisi bencana. Pertama, artikel itu menyuruh Anda untuk
memetakan potensi bahaya di sekitar Anda. Jika Anda bekerja di lantai 3 sebuah
gedung misalnya, nah… itu potensi bahaya. Semua potensi bahaya yang biasa
dihadapi oleh anggota keluarga harus Anda catat dan waspadai ; rumah, kantor,
sekolah dan seterusnya. Lalu susunlah rencana untuk mengatasinya. Misalnya,
minta anak Anda untuk tidak lari ke bawah tiang listrik tegangan tinggi di
halaman sekolah jika gempa terjadi.
Lalu, Anda juga harus memetakan sarana dan prasarana yang
akan Anda butuhkan dalam kondisi darurat ; rumah sakit, pasar, sarana
komunikasi dan lain-lain. Berapa jauh
dari rumah Anda, berapa bahaya yang harus Anda lewati untuk menuju ke sana.
Misalnya, antara rumah dan rumah sakit terdekat, Anda harus menyeberangi
jembatan. Sarana ini mungkin tidak berfungsi jika bencana – gempa, misalnya,
terjadi. Anda harus punya rute cadangan atau… rumah sakit cadangan!
Bagaimana jika semua sampai pada titik yang paling parah?
Titik dimana Anda hanya bisa mengandalkan apapun yang Anda miliki?
Nah, di sinilah fungsi survival kits!
Para pendaki gunung, pengarung jeram, penjelajah rimba dan
seterusnya, pasti familiar dengan istilah ini. Survival kits itu semacam sistem
yang dirancang untuk dipergunakan dalam kondisi darurat yang memaksa kita
bertahan hidup. Untuk mendaki gunung, survival kits biasanya terdiri dari
pisau, tali, korek api, mata kail dan sebagainya. Fungsinya adalah sebagai alat
bantu bertahan hidup ; mencari air, membuat api, membangun perlindungan darurat
sampai mencari makan.
Lantas, bagaiman dengan urban survival kits?
Namanya saja sudah diawali dengan kata urban, jadi survival
kits ini dirancang untuk bertahan hidup di perkotaan. Prinsipnya sih sama saja
; alat bantu untuk bertahan hidup. Tapi karena kondisi perkotaan berbeda dengan
hutan atau pegunungan, maka isinya pun sedikit berbeda. Dalam artikel tadi,
saya belajar merumuskan dan mengkategorikan kebutuhan-kebutuhan dasar bertahan
hidup di perkotaan. Berdasarkan itu, urban survival kits bisa dirancang.
Yang pertama, air. Ini vital. Untuk minum dan sanitasi. Percuma
punya dua gudang mie instant kalau tidak punya air. Memangnya metabolisme tubuh
Anda tidak butuh air untuk mencerna makan? Setelah air, perlindungan darurat.
Lalu api, yang vital untuk memasak, penerangan dan sterilisasi. Setelah itu,
baru makanan dan kebutuhan lain. Antara air dan perlindungan darurat ada peralatan
P3K. Dibutuhkan jika ada yang terluka.
Kalau mau dijelaskan satu demi satu, tulisan ini akan sangat
panjang. Jadi, saya persilahkan Anda melihat foto-fotonya saja. Agar kebayang
seperti apa. Syukur-syukur kalau kepengen punya. Untuk yang ini, saya pernah
coba tunjukan pada teman saya yang sewot itu. Seperti dugaan saya, ia tidak
sewot, tapi berubah sinis ; “Alaaah, mau nyiapin apa kek, kalau waktunya mati
sih, mati ajaaa! Kalau diadu survival kits elu sama kehendak Tuhan, ya Tuhan
yang menang laaah!”
Benar juga sih! Tapi bukankah Tuhan mewajibkan kita untuk berusaha? Setahu saya sih, pasrah itu hanya boleh dilakukan kalau kita sudah
bersusah payah. Dan coba pertimbangkan ini ; mengapa tidak bersusah payah untuk
orang lain ; anak, suami, istri, ibu, ayah, kakek, nenek, adik, kakak, sahabat,
teman, selingkuhan, tetangga dan seterusnya? Mereka mungkin lebih fana dibanding
Anda! :-P
Selasa, 05 Juni 2012
BTHARI, AIRSOFT, NVG DAN KODOK DI SAWAH
Tahu dong airsoft-gun. Ini hobi bagi military enthusiast.
Konsep hobi ini terus berkembang sejak pertama kali ditemukan dan dilakoni.
Gara-garanya pelarangan pemilikan senjata api di Jepang pada 1970-an, yang
membuat diciptakannya replika senjata dengan peluru plastik. Awalnya cuma
digunakan untuk perang-perangan. Lalu, entusiasme ini berkembang. Selain
replika senjata yang makin mirip, para pelakunya juga meniru operator militer
dari elemen pakaian, perlengkapan hingga taktik perang. Tahun 1990-an hobi ini
merambah Amerika sebelum kemudian merambah dunia, termasuk Indonesia.
Bicara airsoft memang bisa sangat panjang. Sebab hobi ini,
terus menerus berkembang sampai pada taraf yang mencengangkan. Dulu replika
senjata berkerja dengan sistem spring – per, pegas. Sekarang ada yang bekerja
dengan gas bahkan batere listrik. Peralatan dan uniform untuk airsoft-gun pun
berkembang makin beragam, Rasanya, tidak ada elemen militer – dalam tingkat
individu, setahu saya – yang tidak dikopi oleh para airsofter. Memang tercatat
penggunaan truk, bahkan tank, dalam skirmish – di Amerika dan Swedia. Tapi
tentu saja, cuma untuk menciptakan atmosfir “perang beneran”.
Soal skirmish – istilah yang paling sering digunakan untuk
aksi perang-perangngan selain MilSym – Military Simulation, ada banyak peran
yang bisa dipilih oleh para airsofter. Tergantung skenarionya. Tergantung
eventnya. Di skirmish militer modern atau, katakanlah, Perang Dunia II dan
Perang Vietnam, peran regular army, special forces sampai snipers, bisa
dipilih. Teori dan skenarionya sih, peran mereka berbeda. Tapi, percayalah,
pada prakteknya, seringkali amburadul. Maklum, semirip-miripnya airsofter,
mereka tetap bukan professional operator.
Skirmish atau MilSim, bisa berlangsung beberapa jam, bahkan
beberapa hari di lokasi yang sudah disepakati. Di sinilah para airsofter yang
sudah dibagi menjadi kubu-kubu terpisah saling adu tembak, adu strategi, adu
teriak, adu ledek sekaligus cekikikan dan menjerit kesakitan kalau terhantam BB
– peluru plastik bulat berukuran normal 6-8 mm, di bagian tubuh yang tidak
terlindungi. Tentu saja, meski relatif aman, ada standar keamanan dan
keselamatan yang mesti dipatuhi para airsofter. Jadi, selain untuk entusiasme,
peralatan dan uniform yang digunakan para airsofter pun berfungsi sebagai
pelindung.
Kalau bicara peran, saya memilih jadi sniper. Makanya,
sejak awal ikut-ikutan hobi ini, saya langsung mengincar replika sniper-rifle.
Berhubung newbie tapi sok tahu, saya langsung mencari sniper-rifle idaman saya
; M14, Remington 700 atau Vintorez SS. Syukur-syukur kalau bisa dapat yang
klasik macam Moshin Nagant, Garant M1C-D atau Mauser K98 dan Gehwer G43 yang legendaris
itu. Hasilnya, “Emangnya yang punya pabrik babe lu!” kata teman saya, airsofter
senior yang saya tanya-tanya soal itu. “Udah, pake M16 gue aja! Sok gaya lu!”
ucapnya lagi sembari menyodorkan replika unit itu. Ternyata jenis-jenis sniper-rifle
tadi belum ada di pasaran waktu itu.
Entah sekarang. Jenis paling popular yang ada saat itu adalah Dragunov dan L96
Accuracy International. Meski kecewa, barang second yang entah berapa kali
dimodifikasi itu pun saya beli juga akhirnya. Selain sniper-rifle, saya juga membeli ghillie
suit, uniform dan tactical vest – rompi tempur, yang sepertinya cocok untuk
peran yang saya pilih. Tentu saja, peralatan keamanan macam goggles, glove dan
tetek bengek lainnya terpaksa dibeli pula. Syukurlah, semuanya second. :p
Niat saya saat itu cuma ingin perang-perangan. Titik. Jadi,
istilah geardo – entusias yang getol meniru operator asli, collector dan aliran
airsofter lain, tidak terlalu menarik minat saya. Dan, keinginan saya tadi
terkabul saat mengikuti skirmish pertama kali. Karena bukan klub resmi, kami
bersepuluh memilih kawasan Situ Gunung sebagai areanya. Skenarionya sederhana ;
2 X 24 jam, five on five, deathmatch! Benar-benar seenaknya, karena bahkan
pihak Taman Nasional tidak tahu kalau ada 10 sniper palsu sedang sok bergerilya
di situ. Yang ini, jangan ditiru! Bergabunglah dengan klub. Bermainlah di area khusus
yang sudah disepakati dan diizinkan. Ini menyangkut keamanan, keselamatan dan
kesadaran untuk tidak membuat orang lain jantungan dan terkaget-kaget!
Kembali lagi, ternyata, jadi sniper itu menyebalkan!
Terutama jika lawannya pun sniper! Jangan membayangkan perang seru ala film Enemy
At The Gates, Shooter atau Sniper-nya Tom Berenger. Boro-boro seru. Yang pertama, kami harus
(sok) invincible. Jadi awalnya, berjalan pun harus menunduk-nunduk, merayap
atau merangkak. Padahal belum tentu ada musuh yang mengincar. Selain itu, udara
di kawasan yang dingin pada malam dan dini hari, membuat kami lupa
prinsip-prinsip sniper ; no light, no smoke, no sound, nothing! Semuanya
dilanggar. Terutama no smoke ; karena 8 dari 10 sniper gadungan itu perokok
berat dan penikmat kopi yang pasti
merasa berdosa kalau tidak membuat api unggun, menyeduh kopi dan mengisap rokok di udara dingin
pegunungan. Walhasil, dua malam itu, yang terjadi bukan perang sniper, tapi camping
dan hiking sambil membawa unit airsoft. :D
Masalahnya adalah area tempur yang terlalu luas. Tujuan
sekenario yang terlalu umum ; kill every enemy, dan waktu yang terlalu lama
untuk para pemula. Setelah 2 X 24 jam itu, tidak ada yang tewas dengan sukses.
Hanya sekali terjadi kontak dan 10-15 kali tembakan asal-asalan karena masing-masing kubu
langsung sibuk “menghilangkan-diri”. Setelah semua usai dan kami berkumpul,
barulah disadari bahwa selama 48 jam itu, kami ternyata lebih sering dipisahkan
oleh 2 buah bukit! Lha, bagaimana mau perang? Hhuh, sudah merayap-rayap pula!
Sekarang, setelah dua tahun, saya memandang airsoft sebagai
sebuah hobi yang menyenangkan karena ya memang menyenangkan. Terutama jika Anda
easy-goers yang ingin menikmati suasana berbeda dari kehidupan sehari-hari.
Memang, kalau sekedar berbeda, ada banyak pilihan. Namun, airsoft juga
menawarkan banyak hal positif. Misalnya belajar untuk bersikap tenang,
strategis dan efektif serta disiplin. Terutama disiplin menabung, karena airsoft
relatif butuh budget yang cukup besar jika ingin tampil keren. Saya untungnya
manusia yang simple. Jadi ya, simple saja. Kalau ada biaya lebih, ya beli. Kalau
tidak, ya ngerayu teman untuk barter saja. Keren kan?! :P
Tapi soal kekonyolan-kekonyolan, sampai saat ini masih
sering terjadi. Di area skirmish, pernah lho saya menembaki posisi spotter saya – partner sniper yang bertugas
membantu membidik sasaran dan melindungi main shooter jika terjadi intense
fire-fight – gara-gara ia kebelet pipis tapi tidak memberi tahu. Hasilnya, spotter
saya itu balas menembak – karena mengira saya musuh sambil memanggil-manggil minta bantuan. Tentu saja, lewat radio, saya membalas dengan panik,
“Under fire, under fire!” Benar-benar tolol! :D
Kekonyolan terbaru terjadi belum lama ini. Putri kecil saya,
Bthari, tampaknya sangat penasaran pada peralatan airsoft saya, terutama pada
IBH Helmet plus NVG yang nangkring di situ. Tiap kali saya membenahi peralatan
airsoft, ia selalu memperhatikan dengan pancaran mata ingin tahu. Saat itu saya
sibuk mengutak-atik side-arm yang terjatuh ke lumpur dan membiarkan helmet dan
NVG yang juga akan saya bersihkan, tergeletak di atas lantai. Bthari sampai
menunggingkan tubuh mungilnya untuk mengintip helmet itu dari depan. "Itu
NVG nak," ujar saya sambil menahan tawa. "Night Vision Goggle. Kalau
pakai itu, adek bisa melihat kodok lagi nyanyi di sawah malam-malam!" Tahu
apa yang terjadi? Ia menarik NVG itu lalu menyeretnya (berikut helmetnya) di
atas lantai, berlari ke teras rumah! "Ayaaah... kodoknya lucu,"
teriaknya tanpa dosa sambil menunjuk ke arah sawah di depan rumah. Ampuuun...
untung helmet dan NVG second dan murah!
Kalau saya menyukai peran sniper itu bukan karena saya
jagoan menembak, tapi karena kebanyakan peran ini hanya perlu nyumput (bahasa
Sunda ; ngumpet, Red.) dan tidak perlu lari-lari sembari teriak-teriak. Dan helmet
ber-NVG - saya beli karena kepengen gaya - memang kurang cocok untuk peran itu.
Mungkin sudah waktunya ayah jual ya dek. Uangnya kita pakai buat beli snipers
camouflage-suit... berbentuk kodok! Pasti ayah selamat sehat wal-afiat. Kan,
airsofter dilarang menembak hewan! :D
Rabu, 30 Mei 2012
BAGAIMANA SIH CARANYA NGE-SAR?
Gara-gara musibah SUKHOI SJ100 kemarin, saya banyak ditanya soal
Search and Rescue - SAR. Padahal, saya sama sekali bukan ahli SAR. Saya cuma pernah dididik soal SAR dan ikut beberapa operasi SAR. Itu pun sebatas di daerah pegunungan. Tapi, santernya berita musibah
SUKHOI SJ100 membuat beberapa teman bertanya dengan rasa ingin tahu. Saya sih,
mencoba menjelaskan sesederhana mungkin saja. Karena operasi SAR memang sederhana
dalam teori. Namun prakteknya, bisa bertolak belakang lebih dari 180O!
Search and Rescue itu, ya upaya yang dilakukan secara
terencana dan metodis untuk menyelamatkan seseorang atau sekelompok orang yang
tidak bisa menolong dirinya sendiri. Dari segi medannya, ada beberapa jenis SAR
; Mountain and Remote Area SAR, Urban SAR (USAR), Ground SAR, Sea and Air SAR
sampai Combat SAR. Tidak usah terlalu serius soal ini. Jenis-jenis SAR ini cuma
batasan yang sangat cair sifatnya. Yang jelas, SAR dilakukan di mana pun, kapan
pun dan dengan beragam tujuan. Soal tujuan ini memang sering diperdebatkan.
Memang tujuan SAR yang utama adalah menyelamatkan jiwa seseorang. Namun dalam
banyak kasus, operasi SAR tetap dilakukan bahkan pada kondisi dimana kemungkinan
hidup korban sudah dianggap tidak ada.
Kalau mau membahas jenis-jenis SAR berdasarkan medannya
tadi, kita harus bicara berpanjang-panjang. Tapi karena pertanyaan utamanya
adalah bagaimana, maka saya akan paparkan saja – sekali lagi, secara sederhana.
Dan proses ini tidak berlaku secara khusus ya. Sebab semua negara memiliki
Badan SAR resmi dengan tata cara dan metode sendiri walau aturan utamanya
biasanya sama. Aturan ini dikeluarkan oleh badan SAR internasional yang menjadi
afiliasi badan-badan SAR resmi negara-negara anggotanya.
Pertama-tama, alarm tanda bahaya dibunyikan! Saat itu, semua
elemen SAR bersiaga. Ada elemen operasi, elemen komunikasi, elemen data dan
dokumentasi dan elemen administrasi serta logistik juga elemen lain sesuai
kebutuhan. Masing-masing elemen ini mulai menjalankan tugasnya sampai kepastian
bahwa kondisi darurat bencana atau musibah memang diyakini terjadi.
Nah, setelah musibah diyakini benar-benar terjadi, elemen
operasi pun langsung memegang kendali. Di elemen ini bekerja individu-individu
yang memang terlatih untuk merencanakan, mempersiapkan, memimpin dan
mengendalikan operasi SAR. Semua proses ini dilakukan dengan dukungan penuh
elemen lain. Elemen komunikasi, misalnya, bekerja menyebarluaskan berita,
menyediakan saluran komunikasi paling efektif sekaligus memberi informasi yang
akurat pada masyarakat. Elemen data dan dokumentasi, bekerja menyediakan semua
data yang dibutuhkan untuk menyusun perencanaan operasi SAR yang efektif.
Sedangkan elemen administrasi dan logistik mengurus soal-soal biaya, peralatan
dan sarana hingga sukarelawan.
Lalu, ditunjuklah SAR Coordinator - SC, Inilah jenderal yang
memimpin operasi SAR. Ia dibantu oleh SMC – SAR Mission Coordinator, komandan operasional
yang bertugas mengatur semua hal menyangkut operasi SAR di lapangan. SMC inilah
yang menentukan Search Area, daerah pencarian yang ditetapkan secara hati-hati
dengan beragam pertimbangan dan metode. Setelah Search Area ditetapkan,
strategi SAR pun disusun dengan cepat untuk dilaksanakan oleh OSC – On Scene
Commander, komandan lapangan yang bertugas sebagai pengendali-pengendali SRU –
Search and Rescue Unit, unit-unit pencari, ujung tombak operasi SAR di lapangan.
Dalam operasi SAR dikenal banyak metode penetapan Search
Area, metode pencarian, metode penyelamatan dan metode evakuasi. Metode mana
yang digunakan, tergantung dari medan, sarana yang tersedia serta tingkat
keahlian para personil SAR di lapangan. Untuk Mountain and Remote SAR, Ground
SAR, Sea and Air SAR, metode yang paling krusial umumnya adalah metode
pencarian mengingat Search Area-nya relatif luas. Untuk Urban SAR, biasanya
metode penyelamatan sangat krusial. Korban yang terperangkap di reruntuhan
gedung, misalnya, membutuhkan teknik penyelamatan yang jauh lebih rumit. Tentu
saja, semua tidak rigid. Dalam kasus musibah SUKHOI SJ 100, metode evakuasi justru
menjadi masalah krusial karena lokasi musibah yang sulit dicapai.
Lalu, keahlian seperti apa sih yang harus dikuasai para
anggota SAR?
Ya, tergantung tugasnya, tentu saja. Mereka yang sanggup
menjabat tugas sebagai SC, SMC dan OSC tentu bukan orang-orang sembarangan.
Mereka tidak hanya terlatih secara teknis, namun terlatih pula secara teoritis
dan akademis. Jangan salah, SAR juga ada sekolahnya! Para komandan ini, bukan
hanya sanggup terjun ke lapangan, tapi juga sanggup memenej sebuah kegiatan
yang harus dilakukan secara tepat dan cepat. Efisien dan efektif. Keahlian
memenej inilah yang tidak bisa dilakukan sembarangan orang ; ada unsure kepemimpinan,
pengambilan keputusan, perencanaan dan seterusnya. Ingat, semua proses ini
diburu waktu! Konsekuaensinya sederhana ; hidup atau mati! Jadi, sekali lagi,
tidak semua orang sanggup.
Para anggota SAR di lapangan pun adalah individu yang
terlatih secara menyeluruh ; keterampilan dan mental fisik. Banyak yang mengira
anggota SAR di lapangan hanya perlu menguasai keterampilan survival dan navigasi. Ini salah besar! Para anggota SAR di lapangan juga harus mampu
menguasi teknik-teknik mountaineering (seperti rock climbing dan teknik vertical
rescue-nya), P3K, evakuasi bahkan membaca jejak dan menguasai bahasa komunikasi
internasional. Pada Urban SAR, para anggota SAR juga dibekali keterampilan
menyangkut bahaya di daerah perkotaan ; bahaya yang umumnya disebabkan karena
gagalnya sarana dan prasarana buatan manusia seperti gedung, saluran gas bawah
tanah atau jaringan listrik. Para anggota Urban SAR juga kerap dibekali ilmu
arsitectural hazard ; bahaya arsitektural yang umumnya dihadapi di lapangan.
Dengan ilmu ini, para anggota SAR tahu mana gedung yang aman dimasuki atau
tidak setelah gempa 8 Skala Richter, misalnya. Untuk operasi SAR di
perairan, para anggota SAR dilatih keterampilan menyelam. Tentu saja,
keterampilan menyelam yang jauh lebih tinggi dari sekedar menyelam untuk
rekreasi. Yang pasti, tugas utama para anggota SAR di lapangan adalah to locate,
to stabilize dan to evacuate para korban yang masih hidup. Jadi, ini bukan
sekedar perkara mengangkat tandu!
Bagaimana dengan para sukarelawan? Apakah mereka juga wajib
menguasai keterampilan-keterampilan seperti itu? Idealnya sih begitu! Sukarelawan kan bertujuan untuk membantu, bukan merepotkan! Yang jelas
para sukarelawan harus bersedia secara jujur menginformasikan tingkat dan
keterampilan yang dikuasainya dan bersedia menerima tanggungjawab yang
diberikan padanya sesuai tingkat dan jenis keterampilannya tadi. Jangan malu!
Operasi SAR bukan sebuah perlombaan atau ajang gagah-gagahan.Bukan arena adu pintar atau adu benar! Operasi SAR
adalah sebuah kesempatan untuk belajar menghargai kehidupan. Bekerja di dapur
umum pos komando, menyediakan makanan dan minuman hangat untuk regu-regu
pencari yang kelelahan agar mereka bisa kembali bekerja dengan efektif dan
tidak kehilangan semangat, juga sama mulianya!
Bagaimana? Jelas? Mudah-mudahan. Sederhana? Sama sekali
tidak, bukan! J
Rabu, 07 Maret 2012
DI GUNUNG, NAK... TIDAK ADA TOKO MAKANAN KALAU KALIAN LAPAR!
Hari baru saja berganti, 4 Mei 1976, 12.30 dini hari. Suara
gemuruh datang di kejauhan. Perempuan itu tidak bisa mengelak. Longsoran salju
terlalu cepat dan mendadak. Ia terkubur hidup-hidup. Meski mencoba bertahan,
shock membuatnya tak sadarkan diri. Hanya 6 menit, sebelum seorang sherpa
menariknya keluar dari timbunan salju yang membekukan. Terguncang hebat,
perempuan itu hanya bisa terdiam, menatap langit biru mengatur napas di udara 6.300
meter dari permukaan laut yang tipis. Hal terakhir yang ia ingat sebelum tak
sadarkan diri adalah putri kecilnya yang berumur 3 tahun, Noriko, jauh di
seberang lautan. “Gunung mengajarkan saya, “ ucapnya kemudian, “Bahwa hidup
tidak boleh disia-siakan!”
Dua belas hari kemudian, dunia mencatat namanya ; Junko
Tabei, wanita pertama yang berhasil mendaki Mount Everest, gunung tertinggi di
dunia. Tanggalnya, 16 Mei 1975. Umurnya saat itu, 35 tahun. Seperti semua puncak gunung di dunia – tak peduli
berapapun tingginya – tidak ada apa-apa di puncak Everest. Tabei bahkan mengaku,
ia tidak lantas dilanda kegembiraan. “Saya hanya senang, tidak harus mendaki
lagi,” ucapnya polos. Di puncak itu, Tabei memandang ke bawah. Mengingat
nama-nama 14 pendaki wanita Jepang yang berangkat bersamanya dan terkubur
bersama saat avalanche datang. “Tidak ada seorangnpun yang tewas. Dan itu yang
mendorong saya ke puncak!”
Dilahirkan dengan nama belakang Ishibashi, 22 September 1939, Junko bukan anak
perempuan yang sangat sehat. Ada masalah kesehatan pada paru-parunya. Ia lemah
dan sakit-sakitan. Pada umur 10 tahun, Junko yang bosan diejek, tiba-tiba saja
menemukan dunia baru yang mencengangkan saat darmawisata sekolah. Sebuah gunung
menyandera pandangannya. Gunung itu, Asahi kemudia didakinya bersama seorang
guru dan beberapa temannya. Setelah itu, ia bersikeras mendaki Chausu. “Saat
itu, mendaki gunung bukan sebuah pilihan bijak,” paparnya. “Kami baru saja
bangkit dari kehancuran dan kami harus lebih khawatir soal apa yang bisa kami
makan .”
Tapi Junko tidak menyerah. Ia menyesuaikan diri.
Di bangku kuliah, Junko diam-diam bergabung dengan klub
pendaki gunung. Mahasiswa lain mencemoohnya ; menyangka ia bergabung karena
ingin mencari jodoh. Junko tidak peduli. Ketika ia berhasil mendaki Fujiyama,
seluruh isi kampus tersenyum padanya dengan hormat. Umur 27 tahun ia menikah
dengan Masanobu Tabei, seorang pendaki gunung yang
cukup popular di Jepang. Pernikahannya ditentang sang ibu hanya karena Masanobu
tidak pernah kuliah.
Junko kembali menyesuaikan diri. Ia menunjukkan cintanya
dengan menjadi istri yang baik seperti adat Jepang. Sang ibu akhirnya menyerah,
meski tahu Junko belum menghapus kecintaannya pada gunung dan petualangan.
Bertahun setelah mendaki Everest, Junko Tabei mendatangi
Indonesia pada tahun 1992. Wanita mungil ini amat ramah dan rendah hati. Tak
berhenti berterima kasih karena sudah diterima dan diizinkan mendaki Cartenz
Pyramide. Setelah pendakian itu, ia menjadi Seven Summiter pertama di dunia –
wanita pertama yang mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua. Menjadi
orang ke 36 mendaki Everest dan Seven Summiter wanita pertama membuat Junko
amat popular dan dihormati. Lagi-lagi, Junko melakukan penyesuaian meski sebenarnya
ia tidak pernah menyukai popularitas dan tanggungjawab yang mengikuti
popularitas itu. Setelah ekspedisi Everest, Junko menolak sponsorship. “Sponsorship
membuat saya merasa mendaki tidak untuk diri saya sendiri. Membuat saya merasa
bekerja untuk perusahaan pemberi dana,” ujarnya.
Kini Tabei aktif mengajarkan pentingnya kelestarian alam dan
tetap bersemangat mendaki. Mendorong kaum wanita muda Jepang untuk menggapai
impian dan cita-cita mereka. Tapi, betapapun hebat pencapaiannya, di rumah,
Junko adalah istri dan ibu. Manasobu, sang suami berujar kalau ia bisa saja
menghapus semua impian Junko bertahun-tahun lalu. “Ia akan menurut. Percayalah,
ia akan menurut dan menjadi ibu rumah tangga biasa,” ujarnya. “Tapi justru karena
ia akan menurut yang membuat saya yakin ; ia harus menggapai impiannya!” Manasobu
juga menolak anggapan kalau ia seorang suami yang sangat baik dan pengertian. “Bukan
soal itu,” ujarnya. “Ini soal ketulusan pada takdir dan hakikat diri kita.” Ia
mengatakan bahwa kehebatan Junko adalah kemampuannya dan kemauannya untuk
menyesuaikan di diri di saat yang tepat. “Setelah membuktikan bahwa ia istri dan ibu
yang baik, menjadi kewajiban saya untuk mendorongnya menggapai impiannya! Itu
naluriah!”
Sang putri, Noriko, berujar singkat soal ibunya, “Sebenarnya,
ia bukan pendaki gunung. Ia seorang ibu!” Bagaimana tidak. Pertama kali mengajak
Noriko dan adik laki-lakinya, Shinya, mendaki gunung, yang pertama kali
diucapkan Junko adalah, “Di gunung, nak… tidak ada toko makanan kalau kalian
lapar!” Lalu? “Ia memasak saat waktu
makan dan menyuruh kami menghabiskan makanan kami tanpa sisa,” ujar Noriko sambil tertawa. “Kami katakan ; baik ibu! Tidak ada toko
makanan kalau bekal kita habis!”
Jumat, 27 Januari 2012
GPS? Fuck!
Sumpah! Saya pernah bermaksud membuang GPS saya sejak 1,56
juta tahun yang lalu!
Sebutlah saya alay lebay, karena mungkin benar. Tapi,
beneran, saya sudah pernah anti Global Positioning System. Alasannya sepele ;
GPS itu teknologi canggih. Sementara, otak saya tidak terlalu canggih. Namun
alasan sebenarnya adalah karena makin canggih sebuah teknologi – entah kenapa,
koreksi saya jika salah – teknologi itu makin ringkih (Jawa ; lemah – Red.).
Atau – ini lebih berbahaya – membuat kita makin ringkih!
Ini pengalaman nyata.
Di sebuah gunung, dengan noraknya (padahal tidak ada orang
selain saya dan climbing partner ) saya mengeluarkan GPS baru, memperhatikan
layar LCD-nya, memencet-mencet tombol dan… saya langsung kebelet buang air
besar! Climbing partner saya langsung mengerutkan kening. Kenapa, tanyanya.
Makderabit, jawab saya sedikit panik. Kita melenceng 4 derajat!
Climbing partner saya
langsung mesem. Norak lu, katanya santai. Tangannya meraih GPS baru milik saya
itu. Matanya langsung meneliti layar LCD, membiarkan saya berdiri di sampingnya
dengan harap-harap cemas. Tiga koma empat detik kemudian ia kembali menatap saya ; Ini
bukan peta Papandayan dodol, ujarnya. Ini peta Jakarta! Melenceng 4 derajat
dari mana? Dari Hongkong?
Oke, saya koreksi kalimat dua alinea di atas ; itu
pengalaman nyata soal gobloknya saya. Nah, di bawah ini, pengalaman nyata soal
teknologi yang makin canggih makin ringkih sekaligus membuat manusia
penggunanya ikut ringkih.
Setelah paham kalau GPS butuh input data lokasi, saya makin norak. Semua data lokasi
yang pernah saya kunjungi, saya masukan. Siapa tahu saya membutuhkan suatu
hari, pikir saya. Walhasil, GPS saya mungkin GPS paling gaul sekaligus paling
apes, karena ke WC pun tak jarang alat canggih itu saya bawa. Pada beberapa
perjalanan di alam bebas, GPS saya bekerja dengan baik. Tentu saja – sebagai bekas
gaptekers – saya sangat sumringah (Jawa ; sedikit alay – Red.)
Sampai suatu saat, di sebuah sungai setelah 8 jam berarung
jeram, malapetaka itu terjadi ; GPS saya tidak bekerja! Padahal, saya sudah
membungkusnya dengan 3 lapis plastik agar tidak basah. Baterenya pun menyala
sempurna. Saya bahkan membawa cadangannya. Tapi, di layar LCD yang terlihat
hanya tulisan bodoh berbunyi ; Out of coverage area!
Lha, ujar saya dengan mimik bodoh (lagi) pada teman-teman
seperahu, apa gunanya alat ini kalau ia tidak bisa mencakup semua titik di
dunia? Apa kerjanya satelit-satelit di atas sana? Apa? Wedus gembel! Keterangan
dari beberapa teman seperahu yang memang sudah lebih terbiasa menggunakan alat
ini tidak memuaskan saya ; GPS mungkin saja gagal menerima sinyal karena banyak sebab dan sebagainya. Sebagai sebuah teknologi canggih, GPS bergantung pada teknologi lain yang tidak kalah canggihnya. Jika satu sistem gagal, sistem lain biasanya akan ikut gagal. Begitulah kelemahan sophisticated technology, ujar mereka panjang lebar. Sampai akhirnya – mungkin karena sebal mendengar
omelan saya – sang kapten perahu menyodorkan peta sungai. Coba kang, ujarnya
sembari menahan senyum, cek saja posisi kita di peta ini.
Dan terjadilah malapetaka kedua!
Saya terbengong-bengong menatap peta sungai yang tiba-tiba saja
terasa asing! Padahal baru 3 tahun semenjak saya menggunakan GPS sialan itu!
Tiga tahun! Apa sih yang bisa terjadi selama 3 tahun? Anak kecil saja belum tentu
bisa cebok sendiri saat umur 3 tahun!
Tapi itulah kenyataannya! Tiba-tiba saja saya merasa
tersesat sesesat-sesatnya. Tiba-tiba saja, saya kangen setengah mati pada
kompas prisma yang sudah saya miliki lebih dari 20 tahun. Mendadak saya merasa
berdosa ; saya sudah selingkuh! Sementara kompas butut itu selalu setia
menemani saya kemanapun. Tidak pernah ngadat apalagi complain meskipun kerap
ikut berbasah-basah dan berlumpur-lumpur. Oooh… ayam, eh… kompasku!
Manusia itu memang ajaib ya ; mahluk yang mudah terbius dan
tergoda! Dan itu bukan hanya soal GPS vs. kompas lho! Soal lain yang lebih seram pun begitu ;
korupsi, WIL/PIL sampai nepotisme yang menyebalkan itu. Saya mengaku bukan
manusia yang amat sangat setia pada sesuatu. Buat saya, kesetiaan itu relatif,
karena pertanyaan soal kesetiaan itu sebenarnya bukan pada siapa. Tapi pada
apa. Itu sebabnya, saya memilih setia pada Tuhan, bukan pada manusia. Saya
memutuskan setia pada hukum-hukumnya. Walaupun tidak amat taat, saya selalu
mencoba untuk menarik batasan. Sebab saya percaya, batasan itulah yang
membedakan kemanusiaan sesorang. Nah, soal hukum Tuhan itu, salah satunya
adalah perubahan. Percayalah, hidup itu intinya sebuah perubahan yang simultan.
Anda menolaknya, kemungkinan Anda akan kalah. Sialnya, perubahan itulah yang
juga membuat saya memutuskan untuk menyelingkuhi kompas saya dan bermesraan
dengan si GPS.
Saya tidak ingin berbicara soal benar salah. Sebab pada
akhirnya, kesalahan terbesar bukan pada alat atau teknologi. Tapi pada manusianya.
Kesalahan terbesar saya adalah tidak merencakan perubahan itu dengan bijaksana
dan melakukannya dengan membabi buta. Dan seperti semua hal yang dilakukan
dengan membabibuta - atau membadakpicek, menggajahjuling dan seterusnya - saya justru bertambah ringkih. Bukan bertambah kuat!
Padahal, bahkan Tuhan memberi kesempatan manusia untuk
berubah selama hidupnya! Agar menjadi mahluk yang lebih baik. Caranya sebenarnya sederhana ; berlaku jujur. Saya tidak memberi
kesempatan pada diri sendiri untuk melakukan perubahan itu sesuai kebutuhan.
Saya dibutakan oleh keinginan untuk menjadi sama dengan para pegiat alam bebas lain yang makin hari makin canggih. Padahal, sejak 3,8 juta tahun lalu, saya sudah
percaya bahwa berbeda itu indah luar biasa.
Beberapa bulan setelah peristiwa itu, saya dan climbing
partner saya kembali mendaki gunung. Kali ini, saya memasukan GPS dan kompas
prisma saya ke dalam kantung yang sama. When sophisticated technology failed, the
old knowledge will take control, ujar saya dalam hati sembari cengar-cengir. Selama
pendakian tidak terjadi sesuatu. Kami mencapai puncak dan bersiap mengabadikan
sunrise yang luar biasa indahnya. Ayo cepat, teriak climbing partner saya tak
sabar. Ia memang bersedia menemani saya setelah saya iming-imingi berfoto
dengan latar belakang sunrise. Lumayan buat profile picture Facebook, rayu saya
sebelumnya. Agar lebih sulit ditolak saya lancarkan rayuan maut : kalau perlu,
nanti gue cetakin 20R buat elu pajang di kamar. Anehnya, rayuan itu masih saja
ampuh.
Setelah atur sana atur sini, saya mengarahkan Nikon FM2 saya.
Wajah saya berubah pucat. Saya sengaja membawa kamera analog itu karena sudah
cukup lama tidak menggunakannya. Padahal - seperti kompas saya - kamera itu banyak jasanya. Termasuk merekam
beberapa kejadian penting seperti Kerusuhan Jakarta 1998, beberapa bencana
alam nasional dan sebagainya. Melihat wajah saya pucat pasi, kening climbing
partner saya berkerut. Dan kerutan itu tidak hilang selama 24 jam kemudian –
selama perjalanan turun dan pulang - meskipun saya berusaha setengah mati
meminta maaf ; saya lupa membawa film!
Maklum, sudah terbiasa memakai kamera digital! :p
Rabu, 18 Januari 2012
API DARI AIR DAN ES? BECANDA…
Kening keponakan saya langsung
berkerut ketika saya mengucapkan kalimat ini ; “Api bisa lho dibuat dari air!” Ada
kaca disamping tempat duduk Anda? Coba lihat, apakah kening Anda juga berkerut?
Sulap? Bukan! Sihir?
Amit-amit! Ini murni pengetahuan berbasis logika!
Api itu proses oksidasi cepat
terhadap suatu material dalam proses pembakaran kimiawi yang menghasilkan cahaya, panas dan
berbagai hasil reaksi kimia lainnya. Api berupa energi berintensitas yang
bervariasi dan memiliki bentuk cahaya - dengan
panjang gelombang di luar spektrum visual sehingga dapat tidak terlihat oleh mata manusia - dan panas yang juga dapat menimbulkan asap.
Penemuan cara menyalakan api, mungkin
merupakan salah satu penemuan terbesar dalam sejarah manusia. Pengetahuan
menyalakan api membuat api menjadi salah satu alat terpenting yang mendorong
tumbuh dan berkembangnya peradaban manusia. Kalau tidak percaya, cobalah hidup
seminggu tanpa api. Para arkeolog dan pasukan anti huru-hara pasti akan
mengepung rumah Anda – mengira Anda Phitecantrophus Erectus yang masih tersisa!
Menyalakan api itu mudah jika
Anda dibantu teknologi. Alat pembuat api bisa ditemui dimana-mana. Tidak
usahlah saya sebutkan. Yang jelas, alat pembuat api modern bekerja dengan
beberapa prinsip ; gesekan dua bahan kimia (korek api kayu dan gas) atau gesekan dua kutub berbeda yang mengandung tenaga listrik (korek api elektrik). Jangankan Anda, anak balita seperti
keponakan saya pun, bisa menggunakannya.
Nah, bagaimana jika alat
pembuat api modern tidak tersedia? Mari kita membuat pertanyaan ini lebih
dramatis ; bagaimana jika alat pembuat api modern tidak tersedia sementara Anda
sedang berada di ketinggian ribuan meter di sebuah gunung terpencil, sendirian, kedinginan
didera angin sementara di ransel Anda tersedia berbungkus-bungkus sop instant,
kopi dan rokok? Kurang dramatis? Oke ; bagaimana jika alat pembuat api modern
tidak tersedia saat Anda sedang berada di tengah-tengah Kutub Utara, berpacu
dengan waktu membangun igloo sementara seekor beruang kutub memperhatikan 100 meter
dari tempat Anda sambil berpikir ; “Gue makan nggak ya nih orang?”
Survival adalah permainan
mental!
Kalau bicara soal mental,
bicaralah soal peralatan paling canggih dan mumpuni yang sebenarnya sudah Anda
miliki sejak Anda belajar mengeja huruf dan angka ; kreatifitas! Dengan
kreatifitas inilah, api bisa dibuat dari air dan es!
Bagaimana caranya? Baiklah!
Berhentilah melongo dengan mulut terbuka dan perbaiki sikap duduk Anda. Malu dong sama komputer!
Salah satu metode menyalakan
api adalah dengan memanfaatkan titik fokus cahaya. Caranya dengan menggunakan lensa
kaca atau bahan lain ; Anda pasti pernah melakukannya dengan sebuah kaca
pembesar atau suryakanta. Bisa juga dengan memantulkan cahaya menggunakan bahan yang
memang memantulkan cahaya atau reflektor. Metode ini kita bahas di tulisan
tersendiri. Nah, di sinilah kreatifnya. Suryakanta bisa dibuat dari bahan air
atau es!
Jadi, api bisa dibuat dari air
atau es dengan metode titik fokus cahaya!
Untuk membuat api dari air,
yang Anda butuhkan hanyalah selembar plastik bersih dan air secukupnya.
Masukkan air ke dalam plastik. Buat air dalam plastik itu mengelembung seperti
bola. Itulah suryakanta Anda. Arahkan sinar matahari agar terfokus di satu
titik. Jika Anda menggunakan es, Anda harus membentuk es itu menjadi lensa
cembung.
Suryakanta dari air
Mudah? Sama sekali tidak!
Suryakanta dari air menuntut
bentuk bulat yang sempurna. Jika tidak, cahaya akan terbias kemana-mana dan
sulit bagi Anda untuk mendapat titik fokus cahaya. Plastik yang digunakan harus
setipis mungkin tapi cukup kuat untuk menahan tekanan air. Selain itu, airnya
harus benar-benar bersih. Partikel-partikel dalam air bisa saja mengganggu
usaha Anda membuat titik fokus cahaya. Anda bisa menggunakan material tipis
lebar berbentuk lingkaran untuk memudahkan Anda membulatkan plastik berisi air
tadi. Kesulitan yang hampir sama juga terjadi jika Anda menggunakan es. Hampir
tidak ada es yang benar-benar bersih. Jika tidak kotor, biasanya terdapat
gelembung udara yang bisa membiaskan cahaya.
Jadi, sebenarnya bisa tidak? Bisa!
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa banyak kebakaran alamiah terjadi karena metode
ini ; api muncul dari titik fokus cahaya yang diciptakan setitik embun atau
dari pantulan es alami. Saya sendiri mencobanya. Dan berhasil. Meski membutuhkan
waktu 2 minggu percobaan, puluhan lembar plastik dan berbaskom-baskom es yang
saya buat di freezer kulkas ibu saya (yang sempat berpikir saya hendak ganti profesi menjadi pedagang es balok!)
Oke! Berhenti
tersenyum-senyum! Keluar dan cobalah! Percayalah, di depan komputer senyum Anda
tidak menumbuhkan api asmara siapapun! Anda harus memfokuskannya pada seseorang
di luar sana! :p
Senin, 16 Januari 2012
MENYALAKAN API ITU BUTUH CINTA!
RAHASIA TEKNIK SURVIVAL PRAKTIS
Cobalah makan sekerat daging ular mentah! Hueeek…
Percayalah, Rambo pun akan berpikir dua kali. Tidak lucu dong, kalau jagoan
tempur muntah cuma karena makanan mentah!
Menurut bukti sejarah, api sudah digunakan untuk memasak
makanan sejak 1.9 juta tahun lalu. Dan bukan untuk itu saja. Api juga digunakan
untuk bertahan dari udara dingin, memproduksi senjata sampai alat untuk
menyiksa. Para pegiat alam bebas ;
pendaki gunung, pemanjat tebing, pengarung jeram dan seterusnya, amat
menghargai api. Percayalah, setelah berjam-jam didera lelah, secangkir kopi
atau teh hangat manis, menjadi hiburan yang luar biasa mewah di udara dingin.
Di kondisi darurat, api menjadi lebih penting dari sekedar
membuat kopi atau teh hangat. Api bisa digunakan untuk melindungi diri atau
menjadi alat pemberi sinyal. Masalah muncul jika alat-alat membuat api modern
(korek api kayu, korek api gas atau pemantik magnesium) tidak tersedia. Di sinilah
penguasaan teknik-teknik survival dasar memegang peranan penting. Salah
satunya, menyalakan api dengan teknik primitif.
Ada banyak cara dan metode. Tapi yang paling populer adalah
teknik Bow and Drill atau Firebow ; busur api. Sebuah teknik menyalakan api
dengan memanfaatkan panas yang ditimbulkan oleh gesekan kayu. Disebut busur api
karena gerak gesekan itu dilakukan dengan menggunakan busur dan tali, milip
seperti busur untuk memanah. Ada empat bagian utama. Pertama, bow - busur. Dua driil - bor. Ketiga, socket - penahan bor. Keempat fireboard - alas kayu.
Caranyapun sederhana.
Pertama, buat busurnya. Lalu drill atau bor. Kemudian buat
socket – pengendali dan penahan bor, serta fireboard – alas kayu. Di alas kayu
inilah dibuat lubang dan potongan berbentuk V. Fungsinya, tempat salah satu
ujung bor ditempatkan. Ujung lainnya ditahan oleh penahan bor. Lalu, bor yang
sudah dililit tali busur pun diputarkan dengan gerakan busur. Di bagian bawah
lubang alas kayu diletakkan serbuk penangkap percikan api.
Setelah semua siap, busur digerakan perlahan. Lilitannya
akan membuat bor berputar. Perlahan saja, temukan ritmenya. Setelah itu, mulai
percepat dan tekan penahan bor lebih kuat. Lama kelamaan, gesekan ujung bor
pada alas kayu akan menghasilkan panas dan percikan yang ditangkap serbuk di bawah
lubang. Anda hanya perlu membuat serbuk itu terus menyala menjadi bara. Lalu
menambahkan kayu-kayu kecil untuk menyalakannya menjadi api.
Mudah bukan? Ya! Sangat mudah. Tapi percayalah, 95%
percobaan pertama pasti gagal!
Bagaimana bisa?
Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan pemula.
Pertama, ujung bor pada lubang alas kayu dibuat runcing – seolah dibuat untuk
melubangi alas kayu. Padahal justru sebaliknya. Ujung bor pada lubang alas kayu
harus relatif tumpul. Ini justru membuat gesekan yang lebih cepat menimbulkan
panas. Kedua, tali pada busur seringkali kurang kuat atau justru terlalu kuat.
Akibatnya, putaran bor tidak efisien. Sering juga, bor justru diam ditempat
sementara talinya bergeser terus karena permukaan bor terlalu licin.
Tapi, kegagalan yang seringkali masih terjadi disebabkan
karena ketidaktahuan soal rahasia kecil ini ; menyalakan api itu ternyata butuh
cinta!
Serius!
Dari beberapa percobaan, para survivor paham bahwa untuk
menghasilkan panas dari gesekan kayu dibutuhkan dua jenis kayu berbeda. Tidak
sekedar berbeda, tapi harus benar-benar cocok. Mirip pasangan yang jatuh cinta!
Salah satu kayu harus lebih keras dari yang lain. Tapi, keduanya harus relatif sama
kerasnya. Artinya tidak mudah patah. Kedua kayu juga harus sama-sama kering. Bagi
survivor berpengalaman, menggesekan dua kayu yang basah, bukan cuma membuang
tenaga percuma, tapi juga ‘ngeres’!
Sebenarnya saya ingin menulis daftar kayu yang cocok
dipasangkan untuk membuat gesekan yang efektif membuat panas. Tapi ah, keenakan
Anda dong! Survivor harus berani mencoba dan gagal. Sekaligus, saya juga ingin
tahu seberapa ‘ngeres’ otak Anda! J
SAMPAH DI GUNUNG? SOAL KECIL!
Anda boleh protes, tapi itulah kenyataannya ;
sampah itu soal kecil!
Mungkin sudah ratusan kali, pendaki gunung
seperti Anda melihat langsung atau melihat foto-foto sampah yang bertebaran di
sepanjang jalan setapak gunung. Anda mungkin miris, sedih, kesal atau malah
marah. Pikiran Anda lantas membentuk pola pikir yang mengarah pada sikap,
perilaku dan latarbelakang negatif pelaku-pelakunya. Setelah itu, Anda akan
menyusun pertanyaan soal bagaimana mengatasi masalah-masalah itu.
Ada api, ada asap. Ada manusia, ada sampah!
Jadi, kalau hanya berpikir soal bagaimana
agar tidak ada sampah di gunung, ya mudah ; jangan izinkan satu orang pun
manusia mendakinya! Beres kan? Dan, eits, jangan buru-buru mengatai saya bloon.
Sebab, tanpa Anda katai pun, saya sudah tahu saya bloon. Tapi akuilah dulu ;
kita seringkali berpikir kurang jernih terhadap suatu masalah. Kita kerap
berpikir soal masalah pada ujungnya. Bukan pangkalnya. Padahal, memetakan
pangkal masalah adalah cara paling mudah menyelesaikan masalah. Termasuk
masalah sampah di gunung.
Ini contohnya.
Beberapa tahun lalu, saya mendaki sebuah
gunung di luar negeri, di sebuah negara maju (tidak usah saya sebutkan gunung
atau negaranya ya... tidak penting!). Sebagai jurnalis, saya penasaran
bagaimana gunung yang masuk wilayah Taman Nasional itu bisa sangat bersih dan
terpelihara. Jadilah saya bertanya ini itu pada Kepala Taman Nasional-nya.
Apakah gunung dan Taman Nasional ini buka
sepanjang tahun? Kapan biasanya dilakukan recovery? Si Kepala Taman Nasional
memandang heran. Recovery, ujarnya balas bertanya. Nggak ada tuuuh… Apakah para
pendaki gunung di sini getol melakukan kegiatan bersih gunung, tanya saya lagi.
Si kepala Taman Nasional memandang makin heran. Bersih gunung? Apaan tuuuh… Saya
penasaran. Apakah para pendaki gunung di sini semua pencinta alam yang
kesadarannya soal kelestarian alam sangat tinggi, cecar saya. Si kepala
Nasional lagi-lagi memandang heran. Pencinta alam? Apaan siiih…
Jadi, bagaimana gunung dan Taman Nasional ini
bisa begitu bersih, terpelihara dan indah?
Sederhana, jawabnya. Ini soal reward dan
punishment ; soal penghargaan dan hukuman!
Para Rangers, Jagawana atau apalah
sebutannya, sadar betul bahwa mengurus sebuah gunung dan Taman Nasional itu
pekerjaan yang luar biasa berat. Jangankan dibuka untuk umum. Tidak dibuka
untuk umum pun, mengurus gunung dan Taman Nasional membutuhkan tenaga,
keahlian, strategi dan biaya yang tidak sedikit. Jadi bayangkan jika gunung dan
Taman Nasional itu terbuka dan bisa dimasuki oleh masyarakat umum. Soal
manusia, sebenarnya soal mudah. Manusia itu mahluk yang mencari dan butuh
pilihan. Ambil contoh ; berberat-berat membawa tenda atau kedinginan di puncak
gunung? Pendaki yang pintar pasti memilih membawa tenda. Pendaki yang bodoh,
memilih kedinginan. Di titik ini, ujar si Kepala Taman Nasional, kami katakan
pada pendaki yang memilih kedinginan itu ; “Get your butt out of here! We don’t
need another morron!”
Beres kan?
Tentu saja, teknisnya tidak seperti itu.
Memangnya Opera Van Java!
Protokol dan prosedur disusun secara apik
untuk mendeteksi masalah perlengkapan bahkan masalah kesiapan mental dan fisik
pendaki-pendaki itu. Bukan hal aneh di kantor Taman Nasional di negara maju,
terdapat mesin pendeteksi kandungan alkohol dalam tubuh! Bukan hal aneh juga
kalau di kantor-kantor itu, tersedia selembaran gratis berisi informasi
peralatan, peta lengkap sampai teknik survival praktis! Bahkan, di beberapa
kesempatan, petugas Taman Nasional berhak mengadakan tes keterampilan. Biasanya
tertulis. Di lembar tes itu disusun pertanyaan sederhana seperti bagaimana
mendirikan tenda yang benar. Jika ada pendaki yang tidak bisa menjawab
pertanyaan ini, para Rangers pasti menyalakan lampu tanda bahaya! Mereka
langsung memberi latihan singkat dan bertanya apa lagi yang pendaki itu tidak
ketahui soal kegiatan yang akan mereka jalani. Tak hanya itu, para Rangers juga mengawasi pendaki gunung ini dengan ketat, memonitornya dengan teratur. Jika sesuatu terjadi, tindakan bisa dilakukan dengan cepat karena masalahnya sudah diketahui sejak awal.
Begitu juga soal sampah.
Beberapa Taman Nasional sangat ketat
menerapkan aturan soal ini. Kebanyakan sampah yang dibawa pendaki gunung atau
pengunjung Taman Nasional biasanya sampah berupa pembungkus makanan. Selebihnya
adalah sampah yang berhubungan dengan kebutuhan lain seperti kebersihan atau
peralatan.
Tidak seperti Taman Nasional di Indonesia
yang memperbolehkan pengunjung untuk membawa hampir apapun ke area konservasi, petugas
Taman Nasional di negara maju amat teliti. Makanan diteliti dan
ditimbang. Bukan jumlahnya yang dipermasalahkan tapi pembungkusnya. Makanan
siap saji yang memiliki kemasan berlapis-lapis jangan harap bisa masuk.
Pilihannya adalah ditinggal atau bungkusnya dikurangi. Ambil contoh mie instant
yang dibungkus plastik dengan bumbu-bumbu yang juga dikemas. Jika tetap ingin
dibawa, maka mie atau bumbunya harus dikeluarkan dan kemasannya dibuang. Ada beberapa Taman Nasional yang
menerapkan peraturan berat maksimal bahan plastik yang boleh dibawa ke kawasan.
Peralatan pun begitu. Ditimbang dan dicatat.
Gas kaleng untuk memasak dicatat jumlahnya. Begitu juga kebutuhan kebersihan
seperti tissue atau pembalut. Membawa satu pak pembalut untuk kunjungan 24 jam
pasti membuat para Rangers mengerutkan kening! Begitu juga jika ada pengunjung
yang nekat membawa bergulung-gulung tissue.
Para pengunjung juga diwajibkan membawa
kembali sampah mereka di dalam plastic-bag yang disiapkan Taman Nasional. Jika
merepotkan, mereka boleh meninggalkannya di pos-pos pengumpulan sampah yang
sudah disiapkan. Tapi mereka wajib melaporkannya. Jika tidak, jangan harap bisa
meninggalkan Taman Nasional. Para Rangers akan menggiring pengunjung ke ruang
tahanan sementara kasus pelanggaran mereka diproses dan denda dijatuhkan.
Memang tidak seperti ruang tahanan kriminal. Tapi tetap saja memberi efek jera
dan malu. Apalagi, hukumannya tidak hanya sampai di situ. Nama mereka dicatat
dan disebarkan ke Taman Nasional lain. Jadi Taman Nasional lain akan bersiap
ketika si pengunjung nakal itu datang. Jika sudah berkali-kali, Rangers bahkan
berhak menolak kedatangan si pengunjung atau memperkarakannya secara hukum.
Soal denda juga tidak main-main. Ada beberapa
Taman Nasional yang menerapkan aturan sita. Artinya, jika si pengunjung tidak
memiliki uang untuk membayar denda, barang-barang mereka langsung disita.
Umumnya, Taman Nasional itu bekerja sama dengan badan resmi penggadaian. Semacam
Perum Penggadaian di Indonesia. Si pengunjung diperbolehkan pulang dan diberi waktu untuk membayar denda
dan menebus barang-barangnya. Jika melewati tenggat waktu, badan penggadaian akan melelangnya,
menyerahkan jumlah uang hasil lelang sesuai dengan denda yang dijatuhkan dan
sisanya digunakan untuk kebutuhan sosial atau konservasi. Jadi, jangan harap
Anda bisa lolos dengan memasang raut wajah memelas sambil berkata, “Yaaa bapak,
saya nggak punya uang nih!” - sementara di punggung Anda, tersampir ransel
berharga ratusan ribu! Di sana, para Rangers akan membalas rengekan Anda dengan
kalimat, “Please deh! Basi tau!
Lho, ujar saya sambil melongo, sadis amat
sih? Apakah peraturan seperti itu tidak membuat para pengunjung atau pendaki
gunung takut? Si Kepala Taman Nasional menggeleng yakin. Tidak ada peraturan
yang cukup berat untuk diikuti oleh pendaki gunung yang benar-benar mencintai
alam!
Dan memang, bukan hanya soal pelanggaran saja
yang disorot. Soal penghargaan untuk pengunjung yang baik pun amat
diperhatikan. Jika Anda melaporkan sebuah kerusakan atau melakukan sesuatu
melebihi kewajiban, Anda juga diganjar hadiah. Biasanya cuma sebuah pin
sederhana, setangan (slayer) atau sertifikat. Nama Anda pun dicatat dalam
daftar pengunjung yang baik. Keuntungannya, Anda bisa mendapat prioritas sebagai pengunjung yang jumlahnya memang selalu dibatasi. Kelihatannya sepele, namun ternyata mampu
membangkitkan kesadaran dan kebanggaan memiliki dan menjaga.
Tentu saja semua ini butuh biaya. Dan biaya
itu datang dari retribusi pengunjung. Jadi jangan langsung mengangkat kapak
perang kalau Taman Nasional mengumumkan biaya retribusi baru yang lebih mahal.
Sebab percayalah, harga kelestarian dan kebersihan itu memang mahal. Jangan
lupa, Taman Nasional yang memiliki gunung, misalnya, juga harus menyediakan
dana untuk kondisi darurat jika ada pengunjung atau pendaki yang mengalami
kecelakaan. Jadi, biaya keamanan juga tinggi. Yang perlu dilakukan adalah
memastikan bahwa biaya-biaya itu digunakan untuk tujuan sebenarnya. Tentu saja
ada banyak faktor yang membuat semua itu bisa terlaksana. Dari sisi para
Jagawana, tentu saja kesejahteraan dan perlindungan yang baik ; gaji tinggi,
beragam asuransi mereka dan keluarganya dan kepastian karier. Di sisi
masyarakat jangan lupakan tingkat pendidikan dan latar belakang sosial budaya.
Ketika saya ceritakan masalah-masalah –
terutama sampah, yang sering dihadapi di Taman Nasional kita, si Kepala Taman
Nasional yang saya wawancara itu mengangguk-angguk. “Masalah sampah itu mudah,”
katanya serius. “Masalah yang lebih sulit adalah kemauan!”
Nah ini dia! Maukah kita? Tentu saja! Bisakah
kita! Ya bisa dong! Lha semua elemennya sudah ada kok! Apa sih yang tidak ada
di Indonesia? Koruptor yang jadi selebriti aja ada kok!
Langganan:
Postingan (Atom)






